![]() |
| Sumber Gambar : Visiting Jogja |
Jogjaterkini.id - Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) di Depok, Sleman, menjadi salah satu lokasi yang merekam perjalanan panjang dunia dirgantara Indonesia. Tidak hanya menampilkan artefak sejarah, museum ini juga menyimpan puluhan pesawat yang pernah mengisi era penting pertahanan udara Tanah Air. Banyak di antaranya berasal dari masa revolusi hingga peralihan menuju teknologi penerbangan modern.
Letkol Sus Ambar Rejiyati, selaku Kasi Konservasi Muspusdirla, menjelaskan bahwa museum ini mengoleksi lebih dari empat ribu benda sejarah. Dari jumlah tersebut, 61 unit merupakan pesawat terbang dari berbagai tipe dan negara asal.
“Jumlah koleksi kami sekitar empat ribu item, dan 61 di antaranya adalah pesawat. Penambahan besar terjadi pada 2017, ada sekitar 20 pesawat yang datang dari berbagai wilayah,” ujar Ambar saat ditemui di area museum, Kamis (20/11/2025).
Ia menambahkan bahwa pesawat-pesawat tersebut sebagian besar merupakan armada yang pernah dioperasikan TNI AU antara tahun 1945 hingga dekade 1980-an. Keragaman asalnya pun mencerminkan dinamika hubungan internasional saat Indonesia masih dalam fase membangun kekuatan pertahanan, mulai dari pesawat produksi negara-negara Blok Barat hingga Blok Timur.
Tiga Kategori Utama Koleksi Pesawat
Ambar menjelaskan bahwa koleksi pesawat di Muspusdirla dikelompokkan dalam tiga kategori besar, yakni pesawat tempur, pesawat angkut dan helikopter, serta pesawat latih. Di antara koleksi tersebut terdapat sejumlah pesawat legendaris seperti:
-
P-51 Mustang dan B-25 Mitchell buatan Amerika Serikat, yang pernah menjadi tulang punggung operasi udara Indonesia di masa awal kemerdekaan.
-
TU-16 Badger, pesawat pembom strategis asal Rusia yang menjadi salah satu armada penting di era 1960-an.
-
A6M5 Zero Sen, pesawat tempur ikonik buatan Jepang yang dikenal luas dalam sejarah Perang Dunia II.
Namun dari sekian banyak koleksi, ada satu pesawat yang menjadi simbol perjalanan TNI AU: Pesawat Cureng.
Cureng, Pesawat Ikon dan Saksi Lahirnya Sekolah Penerbang
Pesawat Cureng memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Ambar mengatakan bahwa Cureng menjadi salah satu pesawat tertua yang dimiliki museum dan erat kaitannya dengan masa awal kemerdekaan Indonesia.
“Pesawat Cureng ini termasuk ikon kami, karena berasal dari era awal kemerdekaan. Itu pesawat Jepang yang dulu kita perbaiki,” ungkap Ambar.
Pada 1945, Indonesia belum memiliki infrastruktur maupun armada penerbangan yang memadai. Sejumlah pesawat Jepang yang tersisa kemudian diperbaiki dan dimanfaatkan untuk kegiatan sekolah penerbang pertama. Cureng menjadi salah satu pesawat yang berhasil dipulihkan dan digunakan sebagai modal awal pembentukan tenaga penerbang TNI AU.
“Dari pesawat yang sudah rusak itu, kita berhasil memperbaiki tiga unit. Cureng menjadi modal awal Angkatan Udara menuju kejayaan, karena dari pesawat itulah pendidikan penerbang dimulai,” jelas Letkol Sus Subiyah, Kasi Koleksi Muspusdirla.
Pesawat ini juga tercatat terlibat dalam sejumlah operasi penting, termasuk pada Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Cureng digunakan dalam misi penyerangan di tiga kota sekaligus, yakni Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
Lebih dari itu, Cureng merupakan pesawat yang digunakan dalam penerbangan Merah Putih pertama oleh Adi Sutjipto pada 27 Oktober 1945 dari Lanud Maguwo. Momen tersebut menjadi simbol berdirinya kekuatan udara Indonesia di awal kemerdekaan.
Menjaga Warisan Dirgantara Indonesia
Melalui koleksi-koleksi tersebut, Muspusdirla tidak hanya menampilkan pesawat sebagai objek visual, tetapi juga menyatukan kisah panjang bagaimana TNI AU dibangun dari keterbatasan. Mulai dari memanfaatkan pesawat bekas perang, mendidik calon penerbang, hingga mengoperasikan armada modern dari berbagai negara.
Dengan mengunjungi museum ini, pengunjung dapat melihat langsung perkembangan dunia penerbangan militer Indonesia sekaligus menyelami cerita perjuangan yang jarang terdengar di ruang publik. Museum Dirgantara Mandala terus menjadi pengingat bahwa kemajuan kedirgantaraan Indonesia hari ini tidak lepas dari langkah-langkah kecil tetapi monumental yang dimulai dari pesawat sederhana seperti Cureng.

