TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

Menjelang Ramadan, Tradisi Nyadran Kembali Menghidupkan Spiritualitas Kotagede

Menjelang Ramadan, Tradisi Nyadran Kembali Menghidupkan Spiritualitas Kotagede


Jogjaterkini.id — Memasuki bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, denyut spiritual Kotagede, Yogyakarta, kian terasa. Kawasan bersejarah yang dikenal sebagai cikal bakal Mataram Islam itu kembali menjadi tujuan utama peziarah dari berbagai daerah. Tradisi nyadran, yang berwujud ziarah dan doa bersama, dijalani sebagai bagian dari persiapan batin menyongsong bulan suci Ramadan.

Aktivitas ziarah meningkat signifikan setiap kali bulan Ruwah tiba. Juru kunci Makam Raja-raja Kotagede, Mbah Siswo, menyebut intensitas kunjungan mulai terasa sejak awal bulan dan memuncak menjelang Ramadan. “Kalau sudah masuk bulan Ruwah, hampir setiap hari ramai peziarah,” ujarnya dikutip dari Marknews.id. Ia menambahkan, “Banyak yang datang berombongan, dari pagi sampai sore.”

Keramaian tersebut mencerminkan kuatnya posisi nyadran sebagai praktik sosioreligius masyarakat Jawa. Tradisi ini tidak sekadar menjadi aktivitas ritual, melainkan sarana membangun kesadaran spiritual dengan menautkan penghormatan kepada leluhur dan upaya penyucian diri sebelum menjalani ibadah puasa.

Salah satu rombongan peziarah tercatat datang dari Pondok Al-Ihsan Jampes, Kediri, Jawa Timur. Dipimpin seorang kiai, rombongan tersebut menjalani doa bersama lalu meninggalkan kompleks makam secara tertib. “Ziarah ini ikut kiai,” kata Mukhlis, peziarah asal Kediri.

Bagi Mukhlis, ziarah Ruwahan memiliki makna reflektif. “Kami diajak mendoakan para pendahulu, para raja dan tokoh yang berjasa dalam perjuangan dan penyebaran Islam. Kami tidak meminta kepada yang dikubur. Doa kami hanya ditujukan kepada Allah. Di dalam makam kami bertahlil dan beristighotsah,” ujarnya.

Pemaknaan tersebut menegaskan bahwa ziarah tidak dimaksudkan sebagai praktik pemujaan terhadap tokoh yang telah wafat. Bagi rombongan Pondok Al-Ihsan Jampes, kegiatan di area makam justru menjadi sarana memperkuat tauhid dengan mengirimkan doa sekaligus mengingat jasa para pendahulu.

Secara historis, Makam Raja-raja Kotagede memiliki nilai strategis yang melampaui fungsi pemakaman. Kompleks yang dibangun pada abad ke-16 ini menjadi titik awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam dan menandai peralihan kekuasaan dari Pajang ke Mataram. Di lokasi ini, fondasi politik dan spiritual Mataram Islam pertama kali dirintis.

Sejumlah tokoh penting dimakamkan di kawasan tersebut, di antaranya Panembahan Senapati atau Danang Sutawijaya, raja pertama Mataram Islam yang berkuasa pada 1584–1601. Selain itu, terdapat makam Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Seda ing Krapyak, serta anggota keluarga inti dinasti Mataram Islam generasi awal. Keberadaan para tokoh itu menjadikan Kotagede sebagai episentrum legitimasi spiritual dan politik sebelum pusat kekuasaan bergeser ke Kerta, Plered, hingga Imogiri.

Aspek simbolik juga kuat terasa sejak peziarah memasuki kawasan makam. Gapura paduraksa bercorak Hindu-Jawa dengan pintu rendah memaksa setiap pengunjung menundukkan kepala. Filosofi andhap asor—kerendahan hati di hadapan Tuhan dan para leluhur—menjadi pesan utama dari desain arsitektur tersebut.

Di balik tembok bata merah yang mengelilingi kompleks, suasana hening seolah membatasi ruang sakral dengan kehidupan kota. Peziarah berjalan perlahan dan berbicara lirih, menciptakan ruang refleksi yang mendalam.

Keunikan lain dari Makam Kotagede adalah aturan berpakaian adat Jawa bagi peziarah yang hendak memasuki cungkup utama. Laki-laki diwajibkan mengenakan surjan lurik peranakan, jarik, dan blangkon, sementara perempuan mengenakan kain jarik serta penutup bahu. Ketentuan ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap otoritas spiritual para raja.

Pengelola makam menyediakan layanan penyewaan busana adat dengan tarif sekitar Rp50.000. Selain memudahkan peziarah dari berbagai latar belakang, proses berganti pakaian tersebut juga menjadi simbol peralihan psikologis—meninggalkan atribut duniawi sebelum memasuki ruang spiritual.

Sejarawan Yudah Prakoso menilai tradisi ziarah Ruwahan di Kotagede berfungsi sebagai pengingat akan keterbatasan manusia. “Di hadapan nisan para penguasa besar yang dahulu menggenggam kekuasaan, peziarah disadarkan bahwa semua manusia akan kembali ke tanah,” kata Yudah.

Menurut dia, kesadaran akan kematian menjadi bagian penting dalam persiapan spiritual menuju Ramadan. “Dengan mengingat akhir hayat, seseorang diharapkan menjalani puasa dengan hati yang lebih tulus, rendah hati, dan jauh dari sifat rakus,” ujarnya.

Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, Makam Raja-raja Kotagede tetap berperan sebagai jangkar sejarah dan spiritual. Pada bulan Ruwah, situs ini tidak hanya menjadi tujuan ziarah, tetapi juga ruang jeda—tempat manusia berhenti sejenak, menengok akar sejarah, serta menata batin sebelum memasuki perjalanan spiritual Ramadan.


Ketik kata kunci lalu Enter

close