TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

8 Tempat Makan Jenang Legendaris di Jogja, Kuliner Tradisional Favorit Sepanjang Masa

 

8 Tempat Makan Jenang Legendaris di Jogja, Kuliner Tradisional Favorit Sepanjang Masa
Sumber Gambar : DetikFood


Jogjaterkini.id - Yogyakarta dikenal sebagai kota yang mampu merawat tradisi, tidak hanya lewat budaya dan pariwisata, tetapi juga melalui kekayaan kulinernya. Di tengah maraknya makanan modern, jenang tetap bertahan sebagai sajian tradisional yang digemari lintas generasi. Bubur manis berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula jawa ini kerap menjadi pilihan sarapan hingga kudapan sore karena rasanya yang menenangkan dan mengenyangkan.

Bagi masyarakat Yogyakarta, jenang bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari memori kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Konsistensi rasa, cara penyajian tradisional, hingga suasana pasar rakyat menjadi alasan mengapa kuliner ini tetap relevan hingga saat ini. Berikut delapan tempat makan jenang di Yogyakarta yang dikenal mempertahankan cita rasa autentik dan layak masuk daftar kunjungan Anda.

1. Jenang Gempol Bu Yah, Sensasi Tradisi dalam Balutan Daun Pisang

Jenang Gempol Bu Yah menjadi salah satu ikon jenang pagi hari di kawasan Pasar Pujokusuman. Keunikan utamanya terletak pada penyajian jenang yang masih menggunakan daun pisang, memberikan aroma khas yang memperkuat pengalaman bersantap. Tekstur gempolnya lembut dan berpadu dengan kuah santan yang gurih-manis.

Selain jenang gempol, pengunjung juga dapat memilih bubur sumsum dan bubur mutiara. Dengan harga mulai Rp5.000 per porsi, tempat ini selalu dipadati pembeli sejak pagi. Warung ini mulai buka pukul 06.00 WIB dan kerap tutup lebih cepat karena stok cepat habis.

2. Jenang Bu Gesti Lempuyangan, Warisan Rasa Sejak Puluhan Tahun

Berlokasi di Pasar Lempuyangan, Jenang Bu Gesti dikenal sebagai salah satu jenang tertua di Yogyakarta. Usaha kuliner ini telah berjalan lintas generasi sejak era 1950-an. Daya tariknya terletak pada konsistensi rasa yang tidak berubah, meski telah melewati puluhan tahun.

Menu yang tersedia cukup beragam, mulai dari jenang candil, bubur sumsum, hingga bubur mutiara. Pilihan jenang campur menjadi favorit karena menghadirkan beberapa jenis jenang dalam satu porsi. Warung ini buka pukul 08.00–11.30 WIB dan disarankan datang lebih awal untuk menghindari kehabisan.

3. Jenang Bu Darmini Pasar Beringharjo, Favorit di Jantung Kota

Di kawasan wisata Malioboro, Pasar Beringharjo menjadi rumah bagi Jenang Bu Darmini yang selalu ramai pengunjung. Antrean panjang kerap terlihat, terutama pada pagi hingga siang hari. Hal ini mencerminkan tingginya minat pembeli terhadap cita rasa jenang yang ditawarkan.

Beragam pilihan tersedia, seperti jenang candil, jenang wajik, bubur sumsum, hingga bubur mutiara. Harga per porsi sekitar Rp10.000 dinilai sepadan dengan kualitas dan porsi yang disajikan. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini mudah dijangkau wisatawan.

4. Jenang 8 Rasa Bu Jum, Pilihan Variatif dalam Satu Mangkuk

Jenang 8 Rasa Bu Jum di Pasar Kranggan menawarkan konsep yang berbeda. Dalam satu mangkuk, pembeli dapat menikmati berbagai jenis jenang dengan tekstur dan rasa yang beragam. Mulai dari ketan hitam, biji salak, kacang hijau, hingga candil, semuanya bisa dikombinasikan sesuai selera.

Fleksibilitas menu menjadi nilai lebih dari tempat ini. Harga jenang dibanderol mulai Rp5.000 hingga Rp14.000 tergantung pilihan. Warung ini buka sejak pukul 07.00 hingga 13.00 WIB dan cocok sebagai menu sarapan tradisional.

5. Jenang Gempol Bu Atik, Pilihan Sarapan Klasik di Sleman

Bagi warga Sleman dan sekitarnya, Jenang Gempol Bu Atik di Pasar Caturtunggal menjadi destinasi favorit untuk menikmati sarapan tradisional. Sajian jenang gempol di sini dikenal memiliki rasa klasik dengan tekstur pulen dan kuah santan yang seimbang.

Dengan harga sekitar Rp9.000 per cup, pembeli sudah bisa menikmati jenang gempol buatan tangan yang setia pada resep lama. Warung ini buka pukul 06.00–10.00 WIB dan kerap diserbu pembeli di jam-jam awal.

6. Jenang Papringan Mbah Sastro, Legit dan Mengenyangkan

Berbeda dari kebanyakan penjual jenang yang buka pagi hari, Jenang Papringan Mbah Sastro justru mulai beroperasi sore hari. Lokasinya berada di kawasan Demangan Baru, Sleman. Menu andalannya adalah kombinasi candil dan ketan hitam dengan rasa manis yang kuat.

Harga yang ditawarkan sangat terjangkau, mulai Rp4.000 per porsi. Jenang di sini sering menjadi pilihan camilan sore bagi warga sekitar maupun mahasiswa.

7. Jenang Yu Jumilah Pasar Ngasem, Ramai Sejak Subuh

Pasar Ngasem dikenal sebagai pusat kuliner pagi tradisional di Yogyakarta. Salah satu yang paling dicari adalah Jenang Yu Jumilah. Warung ini telah berjualan lebih dari dua dekade dan dikenal memiliki tekstur jenang yang kental serta rasa gula jawa yang khas.

Varian jenang yang tersedia cukup lengkap, mulai dari jenang sumsum hingga jenang ketan hitam. Meski harga tidak terpampang jelas, kisaran harganya dikenal ramah di kantong, sesuai karakter pasar tradisional.

8. Jenang Yu Mar Kotagede, Lembut dan Kaya Varian

Di kawasan Kotagede, Jenang Yu Mar menjadi tujuan utama pencinta jenang tradisional. Menu jenang campur menjadi favorit karena menghadirkan berbagai jenis jenang dalam satu sajian. Teksturnya lembut dengan rasa manis dan gurih yang seimbang.

Berlokasi di Jalan Kebun Raya, tepat di dekat Gembira Loka Zoo, warung ini buka pukul 06.00–09.00 WIB dan libur setiap hari Selasa. Harga jenang berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Menjaga Eksistensi Jenang di Tengah Perubahan Zaman

Keberadaan delapan tempat makan jenang tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Yogyakarta. Konsistensi rasa, harga terjangkau, serta nilai budaya yang melekat menjadikan jenang tetap relevan di tengah perkembangan tren kuliner modern.

Bagi wisatawan maupun warga lokal, menikmati jenang bukan hanya soal rasa, tetapi juga cara sederhana untuk merasakan denyut kehidupan dan tradisi Kota Yogyakarta yang terus hidup hingga kini.

Ketik kata kunci lalu Enter

close