Jogjaterkini.id - Bulan suci Ramadhan selalu disambut dengan penuh suka cita oleh umat Islam. Di balik kewajiban menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga maghrib, ada satu rukun yang menentukan sah atau tidaknya puasa, yaitu niat. Tanpa niat, ibadah puasa tidak memiliki nilai syar’i.
Persoalan yang kerap muncul setiap tahun adalah teknis pelaksanaan niat puasa Ramadhan. Apakah wajib dilakukan setiap malam sebelum Subuh, atau boleh satu kali saja di awal bulan untuk satu Ramadhan penuh? Berikut penjelasan lengkap berdasarkan pandangan para ulama.
Dalil Pentingnya Niat dalam Ibadah
Landasan utama tentang niat terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya, setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.
Khusus untuk puasa wajib, terdapat ketentuan bahwa niat harus dilakukan sebelum terbit fajar. Dalam hadis dari Hafshah RA, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
(رواه أبو داود والترمذي والنسائي)
Artinya, siapa yang tidak menetapkan niat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.
Dalil ini menjadi dasar bahwa puasa Ramadhan berbeda dengan puasa sunnah yang lebih longgar dalam hal waktu niat.
Pendapat Mayoritas: Wajib Niat Setiap Malam (Mazhab Syafi’i)
Mayoritas ulama atau jumhur, termasuk pengikut Imam Syafi'i, berpendapat bahwa niat puasa Ramadhan wajib diperbarui setiap malam.
Menurut pandangan ini, setiap hari dalam Ramadhan merupakan ibadah yang berdiri sendiri. Jika puasa hari tertentu batal, maka hari berikutnya tetap sah dan tidak terpengaruh. Karena itu, masing-masing hari membutuhkan niat tersendiri.
Bila seseorang lupa berniat pada malam hari dan tidak memiliki niat sebelumnya, maka puasanya pada hari tersebut tidak sah dan wajib diganti.
Lafal Niat Harian
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya, saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.
Pendapat Mazhab Maliki: Cukup Satu Niat untuk Sebulan
Berbeda dengan jumhur, pengikut Imam Malik berpendapat bahwa niat satu kali di malam pertama Ramadhan sudah mencakup seluruh bulan, selama tidak ada hal yang memutus rangkaian puasa seperti haid atau sakit berat.
Mazhab Maliki memandang Ramadhan sebagai satu kesatuan ibadah yang utuh. Kewajibannya adalah berpuasa selama satu bulan penuh, sehingga cukup satu niat di awal untuk mencakup seluruh hari.
Lafal Niat Sebulan Penuh
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri Ramadhāna kullihi lillāhi ta‘ālā.
Artinya, saya niat berpuasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala.
Solusi Aman Menggabungkan Dua Pendapat
Di Indonesia, para ulama kerap menganjurkan langkah kehati-hatian dengan menggabungkan kedua pandangan tersebut.
Praktiknya sebagai berikut:
-
Pada malam pertama Ramadhan, niat puasa satu bulan penuh sebagai bentuk antisipasi.
-
Setiap malam berikutnya, tetap memperbarui niat harian.
Dengan cara ini, jika suatu malam seseorang lupa berniat karena tertidur atau tidak bangun sahur, puasanya tetap sah menurut pendapat Mazhab Maliki. Namun jika rutin berniat setiap malam, ia juga mengikuti pendapat mayoritas ulama yang lebih berhati-hati.
Letak Niat: Hati atau Lisan?
Perlu ditegaskan bahwa tempat niat sebenarnya adalah di dalam hati. Melafalkan niat hanya membantu menghadirkan kesungguhan.
Apabila seseorang bangun sahur dan makan dengan kesadaran ingin berpuasa keesokan harinya, maka secara hukum ia sudah berniat. Tidak membaca lafal Arab bukan berarti puasanya tidak sah, selama dalam hati ada tekad untuk berpuasa.
Menjalani Ramadhan dengan Tenang
Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah bagian dari keluasan syariat. Umat Islam dapat memilih pendapat yang diyakini dengan tetap menghormati pandangan lain.
Agar ibadah lebih mantap:
-
Niatkan puasa satu bulan penuh di malam pertama.
-
Perbarui niat setiap malam sebagai bentuk kesungguhan.
Dengan pemahaman ini, puasa Ramadhan dapat dijalani dengan keyakinan tanpa diliputi keraguan.
Sebagai pelengkap ibadah, jangan lupa memperbanyak sedekah dan berbagi kepada sesama. Ramadhan bukan hanya momentum memperkuat hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga mempererat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

