Jogjaterkini.id - Di kawasan perbukitan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, berdiri sebuah kompleks pemakaman yang tidak sekadar menjadi tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah, filosofi, dan tradisi Jawa yang masih hidup hingga kini. Makam Imogiri atau yang dikenal sebagai Pasarean Imogiri, merupakan situs sakral bagi raja-raja Mataram dan keturunannya.
Asal-usul Nama dan Makna Filosofis
Nama Imogiri memiliki akar kata dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, yakni “hima” yang berarti kabut dan “giri” yang berarti gunung. Secara harfiah, Imogiri dapat dimaknai sebagai “gunung berkabut”. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Letaknya yang berada di dataran tinggi sering diselimuti kabut tipis, menciptakan suasana hening yang memperkuat nuansa sakral.
Dalam pandangan kosmologi Jawa, tempat tinggi seperti bukit atau gunung dipercaya sebagai titik pertemuan antara dunia manusia dan alam roh. Kepercayaan ini telah ada sejak masa pra-Hindu dan terus berlanjut pada era Hindu hingga Islam, menjadikan lokasi ini pilihan ideal untuk pemakaman para raja.
Dibangun di Era Sultan Agung
Kompleks pemakaman ini mulai dibangun pada 1632 atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja besar Mataram Islam yang dikenal memiliki visi spiritual dan politik yang kuat. Pembangunan dipimpin oleh Kiai Tumenggung Citrokusumo dengan konsep arsitektur yang memadukan unsur Hindu dan Islam Jawa.
Ciri khas bangunan terlihat dari penggunaan bata merah yang mendominasi area inti makam. Menariknya, struktur bangunan ini tidak menggunakan semen seperti konstruksi modern. Bata-bata tersebut disusun menggunakan teknik tradisional yang dikenal sebagai metode “kosod”, yakni dengan menggosokkan permukaan bata hingga menghasilkan perekat alami.
Ratusan Anak Tangga Menuju Area Sakral
Untuk mencapai puncak kompleks makam, pengunjung harus melewati ratusan anak tangga yang tersusun rapi. Tangga-tangga ini dibuat dengan ukuran relatif pendek, yang diyakini untuk menyesuaikan langkah para peziarah yang mengenakan pakaian adat.
Tak hanya sebagai akses fisik, perjalanan menaiki tangga ini juga dimaknai sebagai simbol perjalanan spiritual—dari dunia profan menuju ruang yang lebih sakral.
Struktur Berlapis dengan Filosofi Mendalam
Kompleks Pasarean Imogiri dirancang secara berlapis, mencerminkan tingkatan kesakralan:
-
Area Publik (Kasultanagungan)
Ditandai dengan gapura supit urang, menjadi pintu masuk utama bagi pengunjung. -
Area Semi Sakral (Srimanganti)
Memiliki gapura paduraksa beratap dengan ornamen sayap di sisi kanan dan kiri. Simbol ini melambangkan kebebasan jiwa setelah meninggalkan raga. -
Area Sakral (Kedhaton)
Merupakan inti kompleks makam, tempat para raja dan keluarga inti dimakamkan. Area ini memiliki aturan ketat, termasuk kewajiban mengenakan busana adat tertentu.
Pusat Pemakaman Raja-Raja Mataram dan Penerusnya
Tokoh pertama yang dimakamkan di Imogiri adalah Sultan Agung sendiri. Seiring waktu, kompleks ini menjadi tempat peristirahatan raja-raja penerusnya, bahkan setelah Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua kekuasaan, yakni Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Pembagian politik tersebut turut memengaruhi pembagian area pemakaman. Kini, Pasarean Imogiri terdiri dari beberapa kompleks utama, termasuk Kasultanagungan, Pakubuwanan, serta area Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Khusus di wilayah Kasultanan Yogyakarta, terdapat tiga kedhaton utama:
-
Kedhaton Kasuwargan
Tempat dimakamkannya Sultan Hamengku Buwana I dan III. -
Kedhaton Besiyaran
Menjadi peristirahatan Sultan Hamengku Buwana IV hingga VI. -
Kedhaton Saptarengga
Diperuntukkan bagi Sultan Hamengku Buwana VII, VIII, dan IX.
Sementara itu, Sultan Hamengku Buwana II dimakamkan di kompleks pemakaman lain di Kotagede.
Warisan Sejarah yang Terus Hidup
Lebih dari sekadar situs makam, Imogiri adalah simbol kesinambungan sejarah Jawa. Meski pusat pemerintahan kerajaan telah berpindah-pindah dan kekuasaan terpecah, para raja tetap kembali ke satu titik yang sama sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Keberadaan Makam Imogiri hingga kini menjadi bukti kuat bagaimana tradisi, spiritualitas, dan arsitektur dapat berpadu dalam satu ruang yang sarat makna. Di puncak bukit yang tenang ini, jejak kejayaan Mataram tetap hidup—bukan hanya dalam nisan, tetapi juga dalam nilai dan kearifan yang diwariskan lintas generasi.

