TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

Geolog UGM dan UPN Telusuri Misteri Kebakaran Berulang di Rumah Warga Seyegan, Dugaan Mengarah ke Gas Metana

 

 

Geolog UGM dan UPN Telusuri Misteri Kebakaran Berulang di Rumah Warga Seyegan, Dugaan Mengarah ke Gas Metana
Gambar : Viva



Jogjaterkini.id, Sleman – Misteri kebakaran berulang yang terjadi di rumah milik Mutfiana di wilayah Seyegan, Kabupaten Sleman, mulai menemukan titik terang. Setelah serangkaian pemeriksaan lapangan dilakukan oleh tim geolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan UPN "Veteran" Yogyakarta, muncul dugaan kuat bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan keberadaan gas metana yang berasal dari bawah permukaan tanah.

Kasus yang telah berlangsung selama sepekan terakhir itu menjadi perhatian berbagai pihak karena api muncul secara tiba-tiba di sejumlah titik dalam rumah. Hingga akhir Mei 2026, tercatat puluhan kejadian kebakaran kecil yang membakar berbagai barang mudah terbakar di dalam bangunan.

Indikasi Sumber Gas Ditemukan di Area Sungai

Tim geolog yang melakukan investigasi lapangan menemukan indikasi keberadaan gas di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Mutfiana. Lokasi tersebut berada di bawah jembatan Jalan Nepen dan menunjukkan adanya gelembung gas yang muncul dari genangan air.

Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, menjelaskan temuan awal tersebut.

"Nah akhirnya kami ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu adalah gas metana, gas CH4. Itu tepat di bawah jembatan Jalan Nepen," ujar Basuki di lokasi, Sabtu (30/5/2026).

Menurutnya, pengujian sederhana menggunakan pipa paralon menunjukkan gas masih keluar dari bawah permukaan air meski tekanan yang terdeteksi relatif lemah.

Kawasan Permukiman Diduga Berdiri di Atas Bekas Rawa

Dari karakteristik batuan dan kondisi geologi setempat, tim menduga wilayah tersebut dulunya merupakan kawasan rawa yang menyimpan material organik dalam jumlah besar. Kondisi semacam itu memungkinkan terbentuknya gas metana secara alami.

"Jadi artinya, indikasi pertama, karena ini masih investigasi awal, indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa. Jadi ini salah satu indikasi kuat batuan wilayah ini dulunya memang bekas rawa," jelasnya.

Basuki menambahkan, batuan berwarna gelap yang ditemukan di sekitar lokasi diduga menjadi media penyimpanan gas. Ketika batuan mencapai kondisi jenuh, gas akan terus keluar dan bergerak melalui celah maupun retakan bawah tanah.

Tim juga menemukan indikasi adanya jalur retakan yang mengarah ke utara. Jalur tersebut diduga menjadi lintasan migrasi gas hingga mencapai area rumah warga.

"Kami juga dapatkan indikasi jalur-jalur semacam patahan, retakan-retakan yang arahnya ke utara, dan diindikasikan kuat juga migrasi ini nyasar ke rumahnya Pak Agus," kata dia.

Gas Diduga Menumpuk pada Sofa dan Pakaian

Sementara itu, tim dari Departemen Teknik Geologi UGM menyoroti kemungkinan gas metana yang terakumulasi di berbagai benda berpori di dalam rumah. Menurut mereka, material seperti sofa, pakaian, hingga kain memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan gas dalam jumlah tertentu.

Dosen sekaligus Asisten Profesor Departemen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi, menjelaskan bahwa akumulasi gas dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan risiko munculnya api.

"Kadang-kadang butuh waktu yang agak lama. Ngumpul di sofa, ngumpul di pakaian, di kain, itu dalam jumlah waktu yang cukup dia baru menyala," ungkapnya.

"Yang punya pori seperti pakaian, sofa, itu dia akan menyimpan gas di situ. Nanti kalau jumlahnya cukup banyak, kena oksigen, menyala dia," tambah Sarju.

Pengukuran menggunakan kamera termal yang dilakukan tim UGM juga menunjukkan bahwa titik-titik munculnya api berada di area dengan suhu lebih tinggi dibandingkan sekitarnya.

"Kami hari ini mengukur suhu dengan kamera termal. Memang keluarnya api itu di tempat-tempat yang suhunya agak tinggi. Itu wajar karena ketika terbakar suhunya naik," ujarnya.

Sampel Air Akan Diperiksa Lebih Lanjut

Untuk memastikan sumber dan jalur penyebaran gas, tim geolog berencana melakukan pemeriksaan lanjutan pada pekan depan. Selain mengukur kadar gas di lokasi, mereka juga akan menguji sampel air dari sumur dan jaringan pipa yang sebelumnya dilaporkan menjadi titik kemunculan api.

"Nanti mungkin pekan depan kami akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas yang ada di tempat itu dan juga sampel air. Karena beberapa waktu yang lalu keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur pipa air dan sumur yang keluar api, maka kami juga akan mengukur sampel air apakah terkontaminasi metana atau tidak," jelasnya.

Sarju menerangkan bahwa air yang mengandung metana tidak otomatis terbakar saat masih berada di bawah tanah. Potensi kebakaran muncul ketika air mencapai permukaan dan gas yang terkandung di dalamnya terlepas ke udara.

"Terbakarnya adalah ketika air keluar di permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa karakteristik gas metana memiliki kemiripan dengan LPG yang umum digunakan masyarakat, meski membutuhkan konsentrasi tertentu untuk dapat menyala.

"Gas metana itu sebenarnya seperti kalau kita punya kompor LPG di rumah. Cuma dia lebih low release, kalorinya rendah. Butuh kadar yang lebih tinggi supaya dia menyala," ujarnya.

Kebakaran Sudah Terjadi 39 Kali

Fenomena kebakaran misterius tersebut pertama kali terjadi pada 23 Mei 2026. Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, api tercatat muncul sebanyak 39 kali di 34 titik berbeda di dalam rumah.

Barang-barang yang terdampak antara lain furnitur, pakaian, tikar, dan berbagai material mudah terbakar lainnya.

"Total sudah 39 kali di 34 titik berbeda yang terbakar. Furniture, pakaian, tikar, barang-barang yang mudah terbakar. Tapi ya aneh, atasnya kebakar masa bawah tidak terbakar," kata Mutfiana.

Sebelumnya, Tim Gegana juga telah melakukan pemeriksaan dan menemukan indikasi kebocoran septic tank yang memicu keluarnya gas metana. Perbaikan saluran septic tank telah dilakukan, namun kemunculan api masih terus terjadi.

"Yang dianjurkan dari Gegana sudah kami lakukan. Terus baju-baju memang sudah diungsikan sebenarnya, tapi ya ada aja yang kebakaran gitu," ujar dia.

Menurut keterangan yang diterimanya dari tim pemeriksa, sisa gas metana di bawah permukaan tanah diduga masih belum sepenuhnya hilang.

"(Dari Gegana bilang) Cuma menghabiskan sisa-sisa gas, dari bawah tanah. Hilangnya metana bisa dalam mingguan atau bulanan," ucapnya.

Untuk alasan keselamatan, Mutfiana bersama suami dan anaknya kini mengungsi sementara ke rumah tetangga. Meski demikian, rumah yang juga digunakan sebagai tempat pemotongan ayam tersebut tetap dijaga setiap malam guna mengantisipasi kemunculan api secara mendadak.

"Sementara ngungsi ke rumah sebelah, nggak berani jauh-jauh. Tapi tetap kita di samping rumah tetap jaga terus. Karena kalau telat sekian menit kalau nggak konangan (ketahuan), istilahnya, nanti semua kena," kata dia.


Sumber : DetikJogja 

Ketik kata kunci lalu Enter

close