![]() |
| Gambar : Detik |
Jogjaterkini.id - Produksi smartphone global pada kuartal pertama 2026 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, persaingan di industri ponsel pintar masih didominasi oleh Samsung dan Apple yang mencatat volume produksi terbesar di dunia.
Laporan terbaru dari firma riset pasar TrendForce mengungkapkan bahwa total produksi smartphone global selama Januari hingga Maret 2026 mencapai sekitar 284 juta unit. Angka tersebut turun 1,7 persen dibandingkan kuartal pertama 2025.
Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya biaya komponen, khususnya memori, yang mulai memberikan tekanan terhadap profitabilitas para produsen smartphone. Meski demikian, sejumlah merek besar masih mampu mempertahankan performa produksi berkat strategi produk dan kekuatan pasar yang dimiliki.
Samsung Masih Menjadi Produsen Smartphone Terbesar
Samsung kembali menempati posisi teratas sebagai produsen smartphone dengan volume produksi tertinggi pada kuartal I-2026. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut memproduksi sekitar 62,6 juta unit smartphone selama tiga bulan pertama tahun ini.
Pencapaian tersebut menunjukkan kenaikan 7,6 persen dibanding kuartal sebelumnya dan meningkat 2,3 persen secara tahunan.
Kinerja positif Samsung tidak terlepas dari tingginya permintaan terhadap lini ponsel premium Galaxy S generasi terbaru yang mulai diproduksi secara masif. Selain itu, keberadaan portofolio produk premium yang kuat membantu perusahaan menjaga stabilitas bisnis ketika biaya komponen mengalami kenaikan.
Namun demikian, ketergantungan Samsung pada pasar ponsel kelas bawah masih menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika daya beli konsumen di sejumlah wilayah mengalami perlambatan.
Apple Tempel Ketat dengan Produksi Lebih dari 60 Juta Unit
Di posisi kedua terdapat Apple yang memproduksi sekitar 60,2 juta unit iPhone pada kuartal pertama 2026.
Kenaikan produksi Apple didorong oleh hadirnya model baru, termasuk seri iPhone 17e yang memperkuat lini produknya di pasar global. Secara tahunan, produksi Apple tercatat tumbuh 19,7 persen.
Keunggulan Apple dinilai terletak pada kemampuannya mengelola kenaikan biaya komponen tanpa harus mengorbankan margin keuntungan secara signifikan. Dengan ekosistem perangkat dan layanan digital yang terus berkembang, perusahaan asal Amerika Serikat ini diperkirakan tetap fokus memperluas pangsa pasar sekaligus memperkuat sumber pendapatan dari sektor layanan dan perangkat lunak.
Oppo, Xiaomi, dan Vivo Masih Masuk Lima Besar
Persaingan di posisi berikutnya ditempati oleh tiga vendor asal China, yakni Oppo, Xiaomi, dan Vivo.
Berikut daftar produksi smartphone global kuartal I-2026 berdasarkan data TrendForce:
- Samsung: 62,6 juta unit
- Apple: 60,2 juta unit
- Oppo: 29,5 juta unit
- Xiaomi: 26 juta unit
- Vivo: 22 juta unit
- Transsion: 19,8 juta unit
Meski masih berada dalam jajaran produsen terbesar dunia, ketiga perusahaan tersebut menghadapi tantangan yang tidak ringan sepanjang 2026.
Kenaikan harga memori menjadi salah satu faktor utama yang menekan keuntungan. Situasi ini membuat sejumlah vendor harus lebih berhati-hati dalam menentukan target produksi untuk sisa tahun berjalan.
Jika biaya komponen terus meningkat, bukan tidak mungkin rencana produksi mereka akan disesuaikan agar tetap menjaga kesehatan bisnis dan margin keuntungan.
Transsion Bertahan Berkat Pasar Negara Berkembang
Transsion menempati posisi keenam dengan produksi sekitar 19,8 juta unit smartphone pada kuartal pertama 2026.
Perusahaan yang membawahi merek Tecno, Infinix, dan Itel ini dikenal kuat di segmen entry-level dan pasar negara berkembang. Volume produksinya relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski rentan terhadap kenaikan harga komponen karena margin keuntungan yang tipis, Transsion masih memiliki peluang besar untuk tumbuh. Permintaan ponsel terjangkau di berbagai negara berkembang dinilai tetap tinggi.
Menariknya, ketika sejumlah produsen mulai mengurangi fokus pada ponsel murah demi menjaga profitabilitas, Transsion justru berpotensi memanfaatkan ruang pasar yang ditinggalkan kompetitor.
Kenaikan Harga Memori Jadi Tantangan Industri Smartphone
Salah satu isu utama yang membayangi industri smartphone sepanjang 2026 adalah meningkatnya harga memori.
Pada kuartal pertama, dampak kenaikan tersebut belum terlalu terasa karena sebagian besar vendor masih memiliki stok komponen yang diperoleh dari pasokan sebelumnya. Selain itu, ekspektasi konsumen terhadap potensi kenaikan harga smartphone turut mendorong pembelian perangkat lebih awal sehingga membantu menjaga permintaan pasar.
Namun situasi diperkirakan berubah pada kuartal kedua 2026. Ketika stok lama mulai menipis, produsen akan menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi akibat harga memori yang terus naik.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi strategi bisnis berbagai vendor, mulai dari penyesuaian volume produksi hingga kemungkinan kenaikan harga jual perangkat di pasar.
Produksi Smartphone Global Diprediksi Kembali Menurun
TrendForce memperkirakan tekanan biaya komponen akan semakin terasa pada paruh kedua tahun ini. Akibatnya, produksi smartphone global berpotensi mengalami penurunan lebih dalam.
Firma riset tersebut memproyeksikan volume produksi smartphone dunia dapat turun hingga 16,2 persen secara tahunan apabila tren kenaikan harga memori terus berlanjut.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap produsen menerapkan strategi yang berbeda. Merek dengan portofolio flagship yang kuat cenderung mempertahankan harga dan fokus memperluas pangsa pasar.
Sementara itu, vendor China yang banyak bermain di segmen menengah dan entry-level diperkirakan akan lebih konservatif dalam menyusun rencana produksi. Selain menghadapi lonjakan biaya, mereka juga harus bersaing semakin ketat dengan pemain lain, termasuk Huawei yang terus memperkuat posisinya di pasar smartphone global.
Kesimpulan
Meski produksi smartphone global pada kuartal pertama 2026 mengalami penurunan tipis, persaingan antarprodusen masih berlangsung ketat. Samsung dan Apple tetap menjadi dua pemain terbesar dengan total produksi yang mendominasi pasar dunia.
Di sisi lain, kenaikan harga memori menjadi tantangan utama yang berpotensi memengaruhi strategi produksi berbagai vendor sepanjang tahun ini. Jika tekanan biaya terus berlanjut, industri smartphone diperkirakan akan menghadapi perlambatan produksi yang lebih besar pada kuartal-kuartal berikutnya.

