TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

Mengapa Baterai HP Kini Tidak Bisa Dilepas? Ini Alasan Produsen Meninggalkan Desain Lama

Mengapa Baterai HP Kini Tidak Bisa Dilepas Ini Alasan Produsen Meninggalkan Desain Lama


Jogjaterkini.id - Dulu, mengganti baterai ponsel merupakan hal sederhana. Pengguna cukup membuka penutup belakang, melepas baterai lama, kemudian memasang baterai baru. Bahkan, sebagian pengguna sengaja membawa baterai cadangan untuk mengantisipasi perangkat kehabisan daya saat bepergian.

Namun, desain tersebut hampir sepenuhnya menghilang dari smartphone modern. Baterai kini umumnya menyatu dengan bodi perangkat dan membutuhkan proses pembongkaran khusus untuk diganti.

Perubahan ini bukan terjadi tanpa alasan. Perkembangan desain smartphone, tuntutan konsumen terhadap fitur baru, hingga kebutuhan meningkatkan ketahanan perangkat membuat produsen beralih ke baterai tertanam.

Smartphone Semakin Tipis, Baterai Lepasan Makin Sulit Dipertahankan

Salah satu alasan utama perubahan desain baterai adalah tuntutan terhadap bentuk smartphone yang semakin tipis dan kokoh.

Baterai yang dapat dilepas membutuhkan penutup belakang yang bisa dibuka, konektor yang dapat dilepas-pasang, serta mekanisme pengunci. Seluruh komponen tersebut membutuhkan ruang tambahan di dalam perangkat.

Sebaliknya, baterai yang ditanam langsung memungkinkan produsen memanfaatkan ruang internal dengan lebih leluasa. Desain bodi pun dapat dibuat lebih rapat sehingga berbagai komponen lain, seperti kamera beresolusi tinggi dan sistem pengisian daya modern, dapat ditempatkan di dalam perangkat.

Kondisi tersebut membuat produsen lebih mudah menghadirkan smartphone dengan desain premium tanpa harus mengorbankan terlalu banyak ruang internal.

Baterai Tertanam Mendukung Ketahanan terhadap Air

Perubahan desain baterai juga berkaitan dengan meningkatnya ketahanan smartphone terhadap air dan debu.

Pada ponsel dengan baterai lepasan, bagian belakang perangkat harus dapat dibuka oleh pengguna. Adanya celah dan mekanisme pembuka membuat proses penyegelan perangkat menjadi lebih rumit.

Smartphone dengan baterai tertanam memungkinkan produsen membuat bodi yang lebih tertutup. Celah yang sebelumnya digunakan untuk membuka penutup baterai dapat dihilangkan sehingga perangkat lebih mudah dirancang agar memiliki perlindungan terhadap air.

Itulah sebabnya fitur tahan air yang sekarang umum ditemukan pada smartphone kelas menengah hingga flagship berkembang bersamaan dengan perubahan konstruksi perangkat.

Baterai Tidak Mudah Dicabut Saat HP Hilang

Ada manfaat lain yang mungkin tidak terlalu terlihat, yakni dari sisi keamanan.

Smartphone modern dilengkapi fitur pelacakan seperti Find My iPhone dan Find My Device. Selama perangkat masih memiliki daya dan memenuhi kondisi tertentu, pemilik dapat mencoba mengetahui lokasi smartphone yang hilang.

Pada era baterai lepasan, pencuri dapat membuka penutup belakang dan langsung mencabut baterai. Ponsel pun kehilangan sumber daya sehingga proses pelacakan menjadi lebih sulit.

Dengan baterai yang tertanam, tindakan tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah. Untuk mematikan perangkat secara paksa, seseorang harus membongkar atau merusak bagian internal smartphone.

Dengan demikian, desain baterai tertanam turut memberikan keuntungan dari sisi keamanan perangkat yang hilang atau dicuri.

Namun Ada Masalah Saat Baterai Mulai Menurun

Di balik berbagai kelebihannya, baterai tertanam juga memiliki konsekuensi bagi pengguna.

Baterai merupakan salah satu komponen smartphone yang mengalami penurunan kemampuan seiring pemakaian. Setelah digunakan dalam jangka panjang dan melalui banyak siklus pengisian, kapasitas baterai dapat berkurang.

Pada ponsel lama, pengguna dapat mengatasi masalah tersebut dengan membeli baterai pengganti dan memasangnya sendiri.

Situasinya berbeda pada smartphone modern. Penggantian baterai biasanya membutuhkan pembongkaran bodi dan dilakukan oleh teknisi atau pusat servis.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena smartphone bisa saja masih berfungsi dengan baik ketika baterainya mulai mengalami penurunan kapasitas. Artinya, perangkat berpotensi diganti sebelum komponen lainnya benar-benar mencapai akhir masa pakai.

Dari perspektif lingkungan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan munculnya dorongan agar perangkat elektronik lebih mudah diperbaiki dan digunakan dalam waktu lebih lama.

Uni Eropa Mendorong Kembalinya Baterai yang Bisa Diganti

Dorongan untuk menghadirkan kembali baterai yang dapat diganti mendapatkan momentum dari kebijakan Uni Eropa.

Pada 2023, Uni Eropa mengesahkan aturan baru terkait baterai perangkat portabel. Salah satu ketentuannya mengarah pada desain baterai yang memungkinkan pemilik melepas dan menggantinya tanpa membutuhkan alat khusus atau bantuan profesional, meskipun alat yang tersedia secara komersial tetap dapat digunakan.

Aturan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 2027.

Cakupannya juga tidak hanya berkaitan dengan smartphone. Karena menggunakan istilah perangkat portabel, ketentuan tersebut berpotensi menyentuh berbagai perangkat elektronik lainnya, termasuk tablet, perangkat wearable, dan headphone nirkabel.

Selain aspek desain, aturan tersebut juga mengatur ketersediaan baterai pengganti. Baterai untuk model tertentu harus tetap tersedia dalam periode yang ditentukan setelah produksi perangkat tersebut dihentikan.

Apakah Smartphone di Indonesia Ikut Berubah?

Kebijakan Uni Eropa secara langsung berlaku untuk pasar Eropa. Namun, dampaknya berpotensi terasa di negara lain.

Industri smartphone mengandalkan produksi dalam jumlah besar. Membuat versi perangkat yang sepenuhnya berbeda untuk setiap kawasan dapat meningkatkan kompleksitas produksi.

Karena itu, apabila produsen mengembangkan smartphone dengan konstruksi baterai yang memenuhi aturan baru untuk pasar Eropa, bukan tidak mungkin desain serupa juga dipasarkan di kawasan lain.

Indonesia menjadi salah satu pasar yang berpotensi ikut mendapatkan perangkat dengan desain tersebut. Meski demikian, keputusan akhirnya tetap bergantung pada strategi masing-masing produsen.

Apple Berpotensi Memiliki Pengecualian

Aturan Uni Eropa juga memiliki ketentuan yang dapat membuka ruang pengecualian bagi produsen tertentu.

Salah satu persyaratannya berkaitan dengan kemampuan baterai mempertahankan kapasitas. Produsen dapat memenuhi standar tertentu apabila baterai mampu mempertahankan setidaknya 80 persen kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian penuh.

Apple sebelumnya menyatakan bahwa baterai pada iPhone 14 dan model setelahnya memenuhi standar tersebut.

Jika klaim tersebut dapat dibuktikan dan diterima oleh regulator Uni Eropa, Apple secara teori memiliki peluang untuk tetap menggunakan baterai tertanam pada perangkatnya.

Namun, penerapan aturan tetap bergantung pada penilaian regulator dan bukti teknis yang diberikan produsen.

Baterai Lepasan Bisa Kembali, tetapi Tidak Seperti Dulu

Kembalinya baterai yang dapat diganti pada smartphone tidak serta-merta berarti ponsel masa depan akan kembali menggunakan penutup belakang sederhana seperti perangkat satu dekade lalu.

Teknologi smartphone sudah berkembang jauh. Produsen tetap harus mempertahankan ketahanan terhadap air, desain tipis, performa tinggi, serta fitur pengisian daya modern.

Karena itu, apabila desain baterai yang dapat diganti kembali menjadi tren, kemungkinan besar konstruksinya akan menggunakan pendekatan yang lebih modern.

Perubahan tersebut pada akhirnya mempertemukan dua kepentingan. Produsen ingin mempertahankan desain dan fitur yang menjadi tuntutan pasar, sementara konsumen dan regulator semakin memperhatikan usia pakai serta kemudahan perbaikan perangkat.

Jika aturan Uni Eropa mulai diterapkan pada 2027, industri smartphone akan menghadapi babak baru. Baterai yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai komponen permanen bisa kembali menjadi bagian yang dapat diganti pengguna.

Ketik kata kunci lalu Enter

close