TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

Yangko Jogja, Kue Kenyal Khas Kotagede yang Punya Sejarah Panjang

 

Yangko Jogja, Kue Kenyal Khas Kotagede yang Punya Sejarah Panjang
Sumber Gambar : Tribun Jogja

Jogjaterkini.id - Jogja tidak hanya dikenal melalui destinasi wisata dan kekayaan budayanya, tetapi juga beragam kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini. Salah satunya adalah yangko, kue berbahan tepung ketan dengan tekstur kenyal dan cita rasa manis yang kerap dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Makanan khas Kotagede ini memiliki bentuk sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang dalam perjalanan kuliner tradisional Yogyakarta. Yangko juga disebut memiliki kaitan dengan kehidupan masyarakat keraton dan kalangan priayi pada masa lalu.

Selain cita rasanya, proses pembuatan serta sejarah yang menyertainya membuat yangko menjadi salah satu kuliner yang menarik untuk dikenal lebih jauh.

Mengenal Yangko, Kue Khas Kotagede Jogja

Yangko merupakan kue tradisional berbahan dasar tepung ketan yang memiliki tekstur kenyal, menyerupai mochi. Bagian dalamnya secara tradisional diisi kacang yang digiling kasar dan diberi rasa manis.

Kuliner ini dikenal sebagai salah satu makanan khas Kotagede, Yogyakarta. Seiring perkembangan zaman, yangko tidak hanya hadir dengan isian kacang, tetapi juga dikembangkan dalam berbagai varian rasa.

Beberapa rasa yang kini dapat ditemukan antara lain original dengan isian kacang, durian, cokelat, hingga stroberi.

Sejarah Yangko dan Kaitannya dengan Yogyakarta

Yangko dipercaya berasal dari kata "kiyangko". Dalam pelafalan masyarakat Jawa, kata tersebut kemudian diucapkan lebih singkat menjadi "yangko".

Pada masa lalu, yangko disebut sebagai makanan yang berkaitan dengan kalangan raja dan priayi. Makanan ini tidak selalu dapat dinikmati oleh masyarakat biasa sehingga keberadaannya memiliki cerita tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta.

Terdapat pula kisah yang mengaitkan yangko dengan Pangeran Diponegoro. Kue tersebut disebut menjadi salah satu makanan yang dikonsumsi Pangeran Diponegoro ketika bergerilya karena memiliki daya tahan yang cukup lama dan tidak mudah basi.

Kisah tersebut turut memperkuat posisi yangko sebagai kuliner tradisional yang tidak hanya memiliki nilai rasa, tetapi juga cerita sejarah.

Perjalanan Yangko hingga Dikenal sebagai Oleh-Oleh

Salah satu nama yang dikenal dalam sejarah perkembangan yangko adalah Yangko Pak Prapto. Pengenalan makanan tersebut disebut berkaitan dengan Mbah Ireng atau kakek buyut Supraprto.

Mbah Ireng disebut mulai melakukan inovasi dalam pembuatan yangko pada 1921. Meski demikian, makanan tersebut baru mulai dikenal secara luas oleh masyarakat pada 1939.

Dari perjalanan tersebut, yangko kemudian berkembang menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Jogja yang banyak dicari wisatawan.

Keberadaannya hingga sekarang menunjukkan bagaimana makanan tradisional dapat terus bertahan sekaligus menyesuaikan diri dengan selera masyarakat.

Bahan Utama untuk Membuat Yangko

Secara tradisional, bahan yang digunakan untuk membuat yangko relatif sederhana. Beberapa bahan utamanya meliputi:

  • Tepung ketan
  • Gula
  • Santan
  • Kacang untuk isian

Tepung ketan menjadi bahan utama yang memberikan karakter kenyal pada kue. Sementara itu, gula digunakan untuk menghasilkan cita rasa manis dan kacang menjadi isian yang menjadi ciri khas yangko tradisional.

Proses Pembuatan Yangko

Pembuatan yangko diawali dengan mencampurkan adonan tepung ketan dengan air gula yang telah dibuat kental. Campuran tersebut kemudian diuleni hingga mendapatkan adonan yang kalis.

Adonan selanjutnya dimasak hingga matang. Setelah itu, yangko dibiarkan hingga dingin sebelum dipotong menjadi bagian-bagian kecil.

Potongan yangko kemudian ditaburi tepung secara tipis. Langkah tersebut dilakukan agar potongan kue tidak saling menempel.

Setelah siap, yangko biasanya dibungkus menggunakan kertas minyak sebelum disajikan atau dijual sebagai oleh-oleh.

Varian Rasa Yangko Semakin Beragam

Perkembangan kuliner membuat yangko tidak hanya tersedia dalam versi tradisional dengan isian kacang. Produsen juga menghadirkan pilihan rasa yang lebih beragam untuk mengikuti selera konsumen.

Beberapa varian yang disebutkan antara lain:

  • Original dengan isian kacang
  • Durian
  • Cokelat
  • Stroberi

Variasi tersebut membuat yangko tetap dapat diterima oleh konsumen dengan selera yang berbeda, sekaligus mempertahankan bentuk dan karakter dasar kue tradisional tersebut.

Yangko sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Yangko tidak hanya memiliki nilai sebagai makanan tradisional, tetapi juga telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Yangko teregistrasi sebagai warisan budaya tak benda pada 2010 dengan nomor registrasi 2010000738. Warisan kuliner tersebut masuk dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pencatatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap keberadaan yangko sebagai bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta.

Yangko, Oleh-Oleh Jogja yang Sarat Cerita

Yangko menjadi contoh kuliner tradisional yang memiliki perjalanan panjang dari makanan khas Kotagede hingga dikenal sebagai oleh-oleh wisatawan. Teksturnya yang kenyal, rasa manis, serta pilihan isian dan varian rasa menjadi karakter yang membuat makanan ini tetap menarik.

Di balik bentuknya yang sederhana, yangko menyimpan cerita mengenai perkembangan kuliner Yogyakarta, mulai dari asal-usul nama, kaitannya dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu, hingga pencatatannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi lain dari kekayaan kuliner Jogja, yangko dapat menjadi salah satu makanan tradisional yang menarik untuk dicicipi maupun dibawa pulang sebagai buah tangan.

Ketik kata kunci lalu Enter

close