![]() |
| Sumber Gambar : Kompas |
Jogjaterkini.id - GoPro resmi memasuki babak baru setelah mencapai kesepakatan akuisisi dengan Starman Optical senilai 285 juta dolar AS atau sekitar Rp5,13 triliun. Transaksi tersebut diumumkan oleh kedua perusahaan pada Selasa, 1 September 2026 waktu setempat.
Akuisisi ini tidak sekadar menjadi langkah penyelamatan bagi GoPro yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan bisnis. Kesepakatan tersebut juga membawa perusahaan kamera aksi itu menuju bidang yang lebih luas, termasuk teknologi optik, infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (AI), pertahanan, robotik, pemerintahan, hingga kedirgantaraan.
Melalui transaksi tersebut, Starman Optical akan menjadi pemegang kendali mayoritas perusahaan gabungan. Sementara itu, GoPro tetap akan menjalankan bisnis kamera konsumen dan layanan digital yang selama ini menjadi bagian utama perusahaan.
Detail Akuisisi GoPro oleh Starman Optical
Berdasarkan perjanjian merger, pemegang saham GoPro akan mendapatkan pembayaran tunai sebesar 1,14 dolar AS atau sekitar Rp20.520 untuk setiap saham yang dimiliki.
Nilai tersebut masih dapat mengalami penyesuaian berdasarkan kondisi modal kerja bersih GoPro ketika transaksi resmi diselesaikan. Setelah merger rampung, Starman Optical diperkirakan menguasai sekitar 90 persen saham perusahaan gabungan.
Pemegang saham GoPro yang ada saat ini akan mempertahankan sekitar 10 persen kepemilikan.
Selain mengakuisisi saham, transaksi tersebut juga mencakup penyelesaian kewajiban utang GoPro. Perusahaan memiliki utang sekitar 92 juta dolar AS atau setara Rp1,656 triliun yang akan dilunasi sepenuhnya setelah proses akuisisi selesai.
Kesepakatan ini telah mendapatkan persetujuan dari jajaran direksi GoPro dan Starman. Penutupan transaksi ditargetkan berlangsung pada akhir 2026, dengan tetap menunggu persetujuan regulator, pemegang saham GoPro, serta pemenuhan sejumlah ketentuan lainnya.
GoPro Tetap Menjalankan Bisnis Kamera dan Layanan Digital
Meski mengalami perubahan kepemilikan secara signifikan, GoPro tidak akan langsung meninggalkan bisnis yang selama ini dikenal konsumen.
Perusahaan akan tetap tercatat di bursa Nasdaq dan melanjutkan dukungan terhadap produk-produk konsumen. Layanan berlangganan serta platform penyimpanan awan GoPro juga akan tetap menjadi bagian dari bisnis perusahaan.
Perubahan utama justru terlihat dari perluasan portofolio GoPro setelah bergabung dengan Starman Optical.
Teknologi transceiver optik milik Starman akan menjadi bagian dari portofolio perusahaan. Integrasi tersebut diharapkan membuka peluang baru bagi GoPro untuk masuk ke sektor yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap teknologi pencitraan dan komunikasi optik.
Akuisisi Membawa GoPro ke Ekosistem AI
Salah satu alasan penting di balik merger ini adalah peluang bisnis yang muncul dari perkembangan infrastruktur AI.
Starman Optical melalui anak usahanya, Starman New Photonics, mengembangkan transceiver optik. Perangkat tersebut berfungsi mengubah sinyal listrik menjadi cahaya sehingga data dapat dikirim dengan kecepatan tinggi melalui kabel serat optik.
Teknologi ini memiliki peran penting dalam infrastruktur pusat data. Transceiver menjadi penghubung komunikasi antara GPU, switch, dan server yang digunakan dalam pengembangan klaster komputasi berkapasitas besar.
Kebutuhan terhadap perangkat semacam itu semakin meningkat seiring pembangunan pusat data yang mendukung pengembangan AI.
Melalui merger, GoPro berpeluang memperluas cakupan bisnisnya dari kamera aksi dan perangkat pencitraan konsumen menuju teknologi optik yang berkaitan dengan infrastruktur komputasi generasi baru.
Selain pusat data AI, perusahaan gabungan juga membidik sektor pertahanan, pemerintahan, robotik, serta industri kedirgantaraan.
Siapa Starman Optical?
Starman Optical merupakan perusahaan yang relatif baru. Entitas tersebut baru didirikan di Delaware pada 31 Agustus 2026, hanya satu hari sebelum pengumuman kesepakatan dengan GoPro.
Meski demikian, aktivitas bisnis di bidang optik yang menjadi dasar transaksi sebenarnya dijalankan oleh anak perusahaan bernama Starman New Photonics.
Starman New Photonics berawal dari kerja sama dengan perusahaan desain fotonik New Photonics pada 2024. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun fasilitas produksi fotonik di Amerika Serikat.
Bisnis tersebut kemudian mengembangkan transceiver optik untuk kebutuhan transmisi data berkecepatan tinggi.
Pada Maret 2026, Starman New Photonics memperkenalkan Liberty Series dalam konferensi industri OFC yang berlangsung di Los Angeles. Produk tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas kemampuan manufaktur fotonik domestik.
Starman Mendapat Dukungan Investasi di New Jersey
Pengembangan fasilitas produksi menjadi salah satu bagian penting dari strategi Starman New Photonics.
Badan Pembangunan Ekonomi New Jersey atau New Jersey Economic Development Authority (NJEDA) sebelumnya menyetujui investasi senilai 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,7 triliun.
Dana tersebut akan digunakan untuk merenovasi fasilitas dengan luas hampir satu hektare di Warren, New Jersey. Proyek tersebut diperkirakan dapat menciptakan sekitar 250 lapangan kerja baru.
Langkah ini menunjukkan fokus Starman dalam membangun kapasitas produksi teknologi fotonik di dalam negeri Amerika Serikat.
GoPro Pernah Bernilai Hampir Rp72 Triliun
Akuisisi ini menjadi titik penting dalam perjalanan GoPro yang sebelumnya pernah menikmati pertumbuhan bisnis sangat tinggi.
GoPro melantai di bursa saham pada 2014 melalui penawaran umum perdana atau IPO dengan harga 24 dolar AS per saham. Pada hari pertama perdagangan, valuasi perusahaan sempat mendekati 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp72 triliun.
Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Sejak periode tersebut, harga saham GoPro telah mengalami penurunan sekitar 96 persen.
Kinerja pendapatan perusahaan juga ikut tertekan. Pendapatan GoPro pada kuartal yang berakhir Juni 2026 turun lebih dari 80 persen jika dibandingkan dengan rekor 633,91 juta dolar AS yang dicatat pada kuartal keempat 2014.
Persaingan Kamera Aksi Semakin Ketat
Tekanan terhadap GoPro tidak terlepas dari perubahan persaingan di industri kamera aksi.
Perusahaan menghadapi kompetisi dari sejumlah produsen asal China, termasuk DJI dan Insta360. Persaingan tersebut membuat GoPro harus menghadapi tekanan di pasar kamera aksi yang menjadi bisnis utamanya.
Di sisi lain, kenaikan harga chip memori turut memberikan tekanan tambahan terhadap biaya produksi. Kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya permintaan komponen untuk pembangunan infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi besar.
Gabungan antara persaingan pasar dan meningkatnya biaya produksi membuat ruang gerak keuangan GoPro semakin terbatas.
GoPro Sempat Terancam Kehabisan Pendanaan
Kondisi finansial GoPro bahkan sempat mencapai titik kritis pada pertengahan 2026.
Pada Juni 2026, perusahaan memperingatkan pemegang saham mengenai potensi kesulitan mempertahankan operasional apabila tidak memperoleh sumber pendanaan baru.
Sebulan kemudian, pendiri sekaligus CEO GoPro Nicholas Woodman memberikan suntikan dana pribadi sebesar 20 juta dolar AS atau sekitar Rp360 miliar untuk membantu mempertahankan kegiatan operasional perusahaan.
Dalam situasi tersebut, kesepakatan dengan Starman Optical menjadi perubahan besar bagi masa depan GoPro.
Markiplier Menjadi Pemegang Saham Terbesar GoPro
Menjelang akuisisi, GoPro juga menarik perhatian kreator konten YouTube Mark Fischbach atau yang lebih dikenal dengan nama Markiplier.
Fischbach telah mengakumulasi saham GoPro hingga kepemilikannya mencapai 8,5 persen. Jumlah tersebut menjadikannya pemegang saham tunggal terbesar perusahaan.
Sebelumnya, Fischbach menilai saham GoPro berada dalam kondisi undervalued atau dihargai lebih rendah dibandingkan nilai yang menurutnya layak. Akumulasi saham tersebut kemudian terjadi tidak lama sebelum perusahaan mengumumkan kesepakatan akuisisi dengan Starman Optical.
GoPro Memasuki Fase Bisnis Baru
Akuisisi senilai 285 juta dolar AS tersebut menunjukkan perubahan arah yang cukup besar bagi GoPro. Perusahaan tidak hanya mempertahankan bisnis kamera dan layanan konsumen, tetapi juga mendapatkan jalur untuk memasuki industri optik dan teknologi yang berkaitan dengan pertumbuhan AI.
Bagi Starman Optical, penguasaan sekitar 90 persen perusahaan gabungan memberikan kesempatan untuk memperluas teknologi fotonik dan pencitraan melalui merek GoPro yang telah dikenal secara global.
Sementara bagi GoPro, merger ini memberikan peluang untuk mengurangi tekanan finansial sekaligus mencari sumber pertumbuhan baru di luar pasar kamera aksi.
Transaksi tersebut masih harus melewati proses persetujuan regulator dan pemegang saham. Jika seluruh persyaratan terpenuhi, penyelesaian akuisisi ditargetkan berlangsung pada akhir 2026.
Dengan demikian, masa depan GoPro setelah merger tidak hanya akan ditentukan oleh penjualan kamera aksi, tetapi juga oleh kemampuannya memanfaatkan teknologi optik dan pencitraan untuk masuk ke pasar AI, pusat data, pertahanan, robotik, pemerintahan, dan kedirgantaraan.

