Jogjaterkini.id - Penggunaan mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) semakin berkembang di Indonesia. Bersamaan dengan itu, pemilik kendaraan mulai berhadapan dengan sejumlah kondisi yang berbeda dibandingkan mobil bermesin konvensional.
Salah satunya ketika mobil listrik tiba-tiba mengalami penurunan tenaga, melambat, atau bahkan tidak dapat digunakan seperti biasanya. Kondisi tersebut dikenal sebagai limp mode atau mode pincang.
Meski terlihat seperti kerusakan serius, limp mode sebenarnya merupakan sistem perlindungan yang dirancang untuk menjaga komponen penting kendaraan dari risiko kerusakan yang lebih parah.
Apa Itu Limp Mode pada Mobil Listrik?
Limp mode merupakan kondisi ketika sistem kendaraan secara otomatis membatasi kemampuan mobil untuk bekerja secara normal. Pembatasan tersebut dapat membuat tenaga kendaraan berkurang atau mobil berjalan dengan kemampuan yang sangat terbatas.
Manager Domo Hybrid EV, Andrew Jonathan, menjelaskan bahwa limp mode merupakan mekanisme pertahanan yang terdapat pada kendaraan untuk mengamankan komponen dan sistem kelistrikan.
Saat dilakukan pemeriksaan menggunakan alat pemindai atau scanner, indikasi masalah biasanya mengarah ke baterai maupun Power Distribution Unit (PDU).
Dengan adanya sistem tersebut, kendaraan dapat memberikan respons pengamanan ketika mendeteksi adanya gangguan pada komponen penting.
Penyebab Mobil Listrik Masuk Limp Mode
Menurut Andrew, salah satu penyebab utama limp mode pada mobil listrik berkaitan dengan masalah pada sel baterai.
Gangguan juga dapat terjadi akibat arus pendek atau short circuit pada jalur kabel sistem penggerak kendaraan.
Dengan kata lain, limp mode tidak serta-merta berarti seluruh kendaraan mengalami kerusakan. Sistem justru sedang memberikan perlindungan ketika mendeteksi kondisi yang berpotensi membahayakan komponen kelistrikan.
Jika sistem pengaman tersebut tidak tersedia, pengguna mungkin tidak mengetahui adanya gangguan pada bagian penting kendaraan sehingga kerusakan berpotensi menjadi lebih serius.
Bengkel Mulai Menerima Keluhan Limp Mode
Seiring semakin banyaknya mobil listrik yang digunakan masyarakat, pertanyaan mengenai limp mode mulai muncul di bengkel umum yang memiliki spesialisasi kendaraan listrik.
Andrew mengatakan pengguna mobil listrik sudah mulai datang untuk menanyakan kondisi tersebut. Namun, pemeriksaan yang dilakukan bengkel umum sejauh ini rata-rata masih sebatas pengecekan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemilik mobil listrik perlu memahami terlebih dahulu status kendaraannya, khususnya terkait garansi dan jaringan servis yang tersedia.
Mobil Masih Garansi Sebaiknya Dibawa ke Diler Resmi
Bagi pemilik mobil listrik yang kendaraannya masih berada dalam masa garansi pabrikan, bengkel umum menyarankan agar kendaraan dibawa ke diler resmi.
Langkah tersebut penting karena pemeriksaan dan penanganan kendaraan masih dapat dilakukan melalui mekanisme garansi yang berlaku dari produsen.
Pemilik juga sebaiknya tidak terburu-buru melakukan perbaikan di luar jaringan resmi sebelum mengetahui sumber masalahnya. Terlebih, gangguan yang menyebabkan limp mode dapat berkaitan dengan baterai maupun sistem kelistrikan kendaraan.
Biaya Baterai Mobil Listrik Tetap Menjadi Perhatian
Persoalan biaya menjadi salah satu alasan pemilik mobil listrik mulai mempertimbangkan bengkel non-resmi, terutama ketika kendaraan sudah berada di luar masa garansi.
Menurut Andrew, nilai jual kembali mobil listrik dapat mengalami penurunan yang cukup besar. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat biaya penggantian baterai menjadi murah.
Baterai tetap menjadi salah satu komponen paling mahal pada kendaraan listrik. Karena itu, ketika kerusakan berkaitan dengan baterai dan kendaraan sudah tidak mendapatkan perlindungan garansi, pemilik perlu mempertimbangkan biaya perbaikannya.
Limp Mode Bukan Berarti Mobil Rusak Total
Munculnya limp mode sebaiknya tidak langsung diartikan sebagai tanda bahwa mobil listrik mengalami kerusakan total.
Mode tersebut justru merupakan sistem perlindungan yang dibuat agar kendaraan dapat membatasi kerja komponen tertentu ketika mendeteksi adanya gangguan. Tujuannya adalah mencegah masalah berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
Karena itu, ketika mobil listrik tiba-tiba kehilangan tenaga atau masuk ke kondisi limp mode, pemilik sebaiknya melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Terutama jika kendaraan masih berada dalam masa garansi, membawa mobil ke diler resmi menjadi pilihan yang disarankan. Pemeriksaan yang tepat juga dapat membantu menjaga kondisi baterai sekaligus mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut.
Kesimpulan
Limp mode pada mobil listrik merupakan mekanisme pengaman yang bekerja ketika sistem mendeteksi gangguan tertentu. Masalah pada sel baterai serta kemungkinan short circuit pada jalur kabel penggerak menjadi beberapa pemicu yang perlu diperhatikan.
Kondisi mobil yang melambat atau kehilangan tenaga tidak selalu berarti kendaraan rusak total. Sistem tersebut dapat menjadi bentuk perlindungan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
Bagi pemilik mobil listrik, memahami tanda-tanda limp mode dan melakukan pemeriksaan di tempat yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga kendaraan, terutama karena baterai merupakan salah satu komponen dengan biaya penggantian yang tinggi.

