![]() |
| Sumber Gambar : Jawara Tour Jogja |
Jogjaterkini.id - Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota yang kaya akan peninggalan sejarah. Ketika bicara soal candi, sebagian besar wisatawan langsung terpikir tentang Candi Prambanan. Padahal, di wilayah Sleman berdiri sebuah bangunan kuno yang jauh lebih sunyi, namun menyimpan cerita yang tidak kalah menarik. Candi itu bernama Candi Kalasan, sebuah situs yang menjadi saksi perjalanan agama Buddha pada masa Mataram Kuno.
Jejak Awal Bangunan Suci
Candi Kalasan diperkirakan berdiri pada abad ke-8 Masehi, menjadikannya sebagai salah satu candi Buddha tertua di kawasan Jogja. Berbagai catatan sejarah menautkannya dengan Wangsa Syailendra, sebuah dinasti yang dikenal sebagai patron pembangunan candi-candi besar di Jawa. Di masa itu, Kalasan dibangun sebagai penghormatan kepada Dewi Tara, sosok Bodhisatwa perempuan yang begitu dijunjung tinggi dalam ajaran Buddha.
Keberadaan Prasasti Kalasan menjadi bukti kuat perjalanan situs suci ini. Prasasti yang ditulis pada tahun Saka 700 atau 778 M, menggambarkan bagaimana para penasihat agama Syailendra merekomendasikan pembangunan bangunan pemujaan dan biara Buddha kepada Maharaja Tejapurnama Panangkaran. Tokoh tersebut dikenal sebagai salah satu penguasa penting dari trah Rakai Panangkaran, putra Raja Sanjaya dari Mataram Hindu. Dari sini terlihat bahwa interaksi keagamaan di Jawa tidak pernah hitam putih, melainkan berkembang harmonis antara Hindu dan Buddha.
Di masa modern, Kalasan tetap digunakan dalam praktik spiritual Buddha, terutama bagi penganut aliran Tantrayana dan pemuja Dewi Tara.
Arsitektur Berdimensi Ritual
Dari kejauhan, bangunan Kalasan tampak megah dengan perkiraan tinggi mencapai 34 meter. Struktur dasarnya berbentuk bujur sangkar seluas kurang lebih 45 x 45 meter, di mana bagian tubuh utama memiliki ukuran sekitar 34 x 45 meter. Selain ruang inti di bagian tengah, terdapat ruang-ruang kecil yang menjorok keluar di empat sisi candi.
Di antara empat pintu utama, hanya pintu bagian timur yang menjadi akses menuju ruang suci. Di sini pernah berdiri patung Dewi Tara berukuran sekitar 6 meter, kemungkinan dibuat dari perunggu. Susunan batu bertingkat di ruang tersebut kini menjadi saksi bisu sisa altar pemujaan.
Satu hal yang sering menarik perhatian pengunjung adalah detail pahatan di sepanjang dinding. Terdapat cekungan berbentuk ceruk dengan arca, di bagian atasnya terlihat ukiran bermotif Kala, ikon pelindung yang umum ditemukan di arsitektur candi Jawa. Kalasan juga memiliki 52 stupa berukuran sekitar 4,6 meter, menegaskan identitasnya sebagai candi Buddha.
Keunikan Teknologi Kuno: Vajralepa
Salah satu temuan menarik di Candi Kalasan adalah teknik perekat relief yang tidak banyak ditemukan di situs lain. Pada masa pembangunannya, para perajin menggunakan lapisan Vajralepa, sejenis semen kuno berbahan alami. Lapisan ini bukan hanya merekatkan relief, tetapi juga berfungsi sebagai pelindung permukaan batu dari lumut serta jamur. Teknologi ini menunjukkan kecanggihan para ahli bangunan Mataram Kuno, yang memadukan seni, sains, dan keyakinan dalam satu wujud arsitektur.
Lokasi Strategis dan Akses Wisata
Candi Kalasan berada di Kalibening, Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Letaknya sangat mudah dijangkau karena berada tak jauh dari jalan utama jalur Yogyakarta–Solo. Posisi candi yang hanya berjarak sekitar 3 km dari Candi Prambanan dan 5 km dari kompleks Ratu Boko membuatnya ideal sebagai tujuan wisata sejarah satu rute.
Biaya tiket masuk juga tidak memberatkan. Pengunjung cukup membayar Rp5.000 per orang, dengan tarif parkir sekitar Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil. Akses yang sederhana dan lokasi yang saling berdekatan dengan destinasi wisata populer menjadikan Kalasan sebagai pemberhentian menarik bagi wisatawan yang ingin menjelajahi panorama sejarah Jawa.
Menutup Perjalanan di Kalasan
Berjalan mengelilingi Candi Kalasan tidak sekadar menikmati bangunan batu yang sudah berumur ribuan tahun. Di balik dindingnya tersimpan bukti toleransi budaya, kecermatan arsitektur, serta jejak spiritualitas masa lalu. Ketika banyak wisatawan terpikat oleh kejayaan Prambanan, Kalasan menghadirkan cerita yang lebih tenang, lebih intim, dan menawarkan refleksi tentang bagaimana masyarakat Jawa menghidupi iman dan kebijaksanaan di era lampau.
Jika Anda sedang merencanakan perjalanan ke Yogyakarta, sisihkan waktu untuk berhenti sejenak di Kalasan. Bukan hanya karena ia tua, tetapi karena setiap bagiannya memberi gambaran tentang bagaimana sejarah membentuk ruang, religi, dan manusia yang hidup di dalamnya.

