TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

Ketegangan Timur Tengah Memanas, Houthi Siap Terlibat Bela Iran

 

Ketegangan Timur Tengah Memanas, Houthi Siap Terlibat Bela Iran
Sumber Gambar : Kompas

Jogjaterkini.id - Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas seiring pernyataan tegas pemimpin kelompok Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, yang menyatakan pihaknya tidak mengambil posisi netral dalam konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pidato yang disiarkan oleh televisi Al-Masirah pada Kamis (26/3), Abdul-Malik menegaskan keterlibatan kelompoknya akan bergantung pada dinamika yang berkembang di lapangan.
"Kami tidak netral, tetapi posisi kami berasal dari rasa memiliki terhadap Islam dan negara Islam. Setiap perkembangan yang terjadi di lapangan akan ditanggapi dengan sikap militer jika diperlukan, seperti pada putaran sebelumnya," kata Abdul-Malik al-Houthi.

Pernyataan tersebut menandai potensi eskalasi baru, mengingat kelompok Houthi selama ini dikenal sebagai salah satu aktor non-negara yang aktif dalam konflik kawasan, khususnya sejak mereka menguasai ibu kota Sanaa pada 2014.

Soroti Dampak Global dan Tuduhan Agenda Zionis

Lebih lanjut, Abdul-Malik menilai serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah berdampak luas, tidak hanya secara militer tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi global. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merugikan keamanan regional serta memperburuk ketegangan di Timur Tengah.

"Perkembangan di kawasan ini selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel bekerja untuk melaksanakan rencana zionis yang menargetkan semua negara di kawasan ini, dengan tujuan mengubah Timur Tengah dan menciptakan Israel Raya," katanya.

Pernyataan ini mencerminkan narasi yang selama ini kerap disuarakan kelompok Houthi, yang memiliki kedekatan dengan Iran dalam berbagai aspek, termasuk dukungan politik dan militer.

Rekam Jejak Serangan dan Dampak Konflik

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Houthi diketahui telah melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel serta kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Aksi tersebut disebut sebagai respons atas operasi militer Israel di Jalur Gaza yang telah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar sejak Oktober 2023.

Di sisi lain, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel juga terus berkembang. Sejak akhir Februari, serangan udara dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang di Iran, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk Israel serta sejumlah negara seperti Yordania, Irak, dan kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika. Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan internasional.

Potensi Eskalasi Kawasan

Dengan pernyataan terbaru dari Houthi, dinamika konflik berisiko semakin meluas. Keterlibatan kelompok ini berpotensi membuka front baru di kawasan, khususnya di jalur perdagangan strategis seperti Laut Merah yang selama ini menjadi titik krusial bagi distribusi energi dan logistik global.

Pengamat menilai, jika intervensi militer benar-benar terjadi, maka dampaknya tidak hanya terbatas pada konflik regional, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia secara lebih luas.

Ketik kata kunci lalu Enter

close