TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

Konflik Timur Tengah Memanas, Serangan AS–Israel Picu Korban Sipil dan Eskalasi Balasan Iran

Konflik Timur Tengah Memanas, Serangan AS–Israel Picu Korban Sipil dan Eskalasi Balasan Iran
Gambar : Kompas


Jogjaterkini.id - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kian memanas menyusul rangkaian serangan militer Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi militer tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran, mulai dari pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal balistik dan drone, hingga sistem pertahanan udara dan lapangan terbang militer.

Serangan tersebut tidak hanya memicu kerusakan infrastruktur militer, tetapi juga berdampak luas terhadap stabilitas politik internal Iran serta meningkatkan potensi konflik regional yang lebih besar.

Ratusan Warga Sipil Tewas, Anak-anak Jadi Korban Terbesar

Pemerintah Iran melalui Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia mengungkapkan besarnya jumlah korban jiwa akibat serangan tersebut. Duta Besar Iran untuk RI, Mohammad Boroujerdi, menyatakan mayoritas korban berasal dari kalangan sipil.

"Dalam penyerangan ini, sampai dengan hari ini lebih dari 555 orang masyarakat sipil menjadi korban di mana sebagian besar di antara mereka berasal dari kaum anak-anak dan wanita kurang lebih dari 200 ajak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar meninggal dunia," kata Boroujerdi di Rumah Dinas Kedubes Iran, Jakarta Pusat, Senin (2/3).

Ia menambahkan bahwa sejumlah korban meninggal dunia saat tengah menjalankan ibadah puasa.

"Dan berbagai golongan masyarakat nonmiliter sipil yang sedang merayakan dan sedang menjalankan ibadah puasa, dalam keadaan puasa, dijadikan korban," katanya.

Menurut Boroujerdi, peristiwa tersebut menunjukkan kegagalan pendekatan diplomasi yang sebelumnya tengah berlangsung.

"Ini membuktikan sekali lagi bahwa mereka tidak patuh terhadap diplomasi, tidak patuh terhadap negosiasi sekali lagi, terbukti bahwa lagi-lagi pada saat kami sedang berada di meja perundingan, mereka melakukan penjarahan," katanya.

Dampak Serangan Sentuh Lingkaran Elite Iran

Serangan militer juga menimbulkan dampak besar terhadap kepemimpinan Iran. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan awal. Tidak lama berselang, istrinya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, turut meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami koma akibat luka serius.

Media Iran melaporkan Bagherzadeh, yang berusia 79 tahun, tidak mampu bertahan setelah menjalani perawatan intensif sejak serangan berlangsung.

Iran Tunjuk Pemimpin Tertinggi Sementara

Untuk menjaga stabilitas pemerintahan di tengah situasi krisis, Iran menunjuk ulama senior Ayatollah Alireza Arafi sebagai pemimpin tertinggi sementara. Penunjukan tersebut dilakukan oleh Dewan Penentu Kebijakan guna mengisi kekosongan kepemimpinan nasional.

Juru bicara dewan, Mohsen Dehnavi, menyatakan bahwa Arafi akan menjalankan pemerintahan bersama Presiden Masoud Pezeshkian serta Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei dalam Dewan Kepemimpinan Sementara.

"(Dewan Sementara akan memimpin negara hingga Majelis Pakar) memilih pemimpin tetap sesegera mungkin," kata Dehnavi.

Fasilitas Nuklir Natanz Ikut Diserang

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga mengonfirmasi bahwa fasilitas nuklir Natanz menjadi salah satu target serangan AS dan Israel pada Minggu (1/3). Informasi tersebut disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi.

"Mereka kembali menyerang fasilitas nuklir Iran yang damai dan dilindungi kemarin," kata Najafi dalam pertemuan dewan gubernur IAEA.

Saat ditanya fasilitas yang dimaksud, ia menjawab singkat, "Natanz."

Kompleks Natanz diketahui merupakan pusat pengayaan uranium terbesar Iran yang berlokasi sekitar 250 kilometer di selatan Teheran.

Iran Luncurkan Serangan Balasan

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran melancarkan serangan rudal balistik yang disebut menargetkan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta markas komando angkatan udara Israel.

"Kantor perdana menteri kriminal rezim Zionis dan markas komandan angkatan udara rezim tersebut menjadi sasaran," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.

Iran dilaporkan menggunakan rudal balistik Kheibar dalam operasi tersebut, senjata yang sejak 2022 menjadi perhatian sejumlah analis keamanan internasional karena kemampuan jangkauan dan akurasinya.

Selain Israel, Iran juga mengklaim menyerang pangkalan udara milik AS di Kuwait serta kapal militer Amerika di wilayah Samudra Hindia bagian utara.

"Unit-unit rudal dari pasukan darat dan angkatan laut militer yang beroperasi dari berbagai lokasi menargetkan pangkalan udara Ali Al Salem milik AS di Kuwait serta kapal-kapal musuh di Samudra Hindia bagian utara selama beberapa jam terakhir," kata militer Iran.

Sebanyak 15 rudal jelajah disebut digunakan dalam operasi tersebut.

Trump Buka Peluang Pengerahan Pasukan Darat

Di tengah eskalasi konflik, Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran tetap terbuka apabila situasi menuntut langkah tersebut.

"Saya tidak ragu-ragu untuk mengerahkan pasukan darat - seperti yang dikatakan setiap presiden, 'Tidak akan ada pasukan darat.' Saya tidak mengatakannya," kata Trump kepada New York Post.

Ia menegaskan bahwa operasi militer AS terhadap Iran masih berpotensi meningkat.

"Kita bahkan belum mulai menyerang mereka dengan keras. Gelombang besar bahkan belum terjadi. Gelombang besar akan segera datang," kata Trump.

Trump juga mengakui pemerintahannya belum mengetahui secara pasti arah kepemimpinan baru Iran pasca-tewasnya Ayatollah Ali Khamenei.

Ketegangan Global Meningkat

Rangkaian serangan dan balasan militer yang terus berlangsung menandai fase baru konflik Timur Tengah dengan risiko meluas ke kawasan regional. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional terhadap stabilitas energi global, keamanan jalur perdagangan, serta potensi konflik terbuka yang melibatkan lebih banyak negara.

Ketik kata kunci lalu Enter

close