![]() |
| Sumber Gamabr : Tribun Jogja |
Jogjaterkini.id - Sebanyak 178 orang yang terdiri dari 176 siswa dan dua tenaga kependidikan di SMKN 1 Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden tersebut mendorong penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nanggulan sambil menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, dr. RR Susilaningsih, mengungkapkan jumlah warga sekolah yang terdampak terus didata sejak laporan pertama diterima. Hingga saat ini, total korban yang tercatat mencapai 178 orang.
"Sementara sampai kemarin itu 176 siswa dan dua tendik," kata Susilaningsih saat dihubungi, Jumat (7/8/2026).
Dari hasil pemantauan fasilitas kesehatan, mayoritas korban mengeluhkan gejala gangguan pencernaan berupa mual dan diare. Kendati jumlah korban cukup banyak, seluruh pasien hanya menjalani penanganan rawat jalan dan tidak ada yang membutuhkan perawatan inap.
"Gejalanya sementara mual sama diare. Sementara laporan dari puskesmas dan rumah sakit hanya rawat jalan dan tidak ada yang rawat inap," ungkapnya.
Dinas Kesehatan bersama pihak terkait kini masih melakukan investigasi guna memastikan sumber penyebab kejadian tersebut. Berdasarkan penelusuran awal, salah satu menu yang disajikan dalam program MBG, yakni ayam bakar, menjadi fokus pemeriksaan.
Menurut Susilaningsih, menu makanan yang dikonsumsi saat kejadian terdiri dari nasi dan lauk ayam. Dari hasil investigasi sementara, dugaan mengarah pada olahan ayam bakar yang disajikan kepada para siswa.
"Karena menunya waktu itu ada nasi, ada ayam. Jadi dari hasil investigasi memang kemungkinan itu dari ayam bakar. Namun sementara sampel yang disimpan belum ditemukan, sehingga belum bisa memeriksa sampel," jelasnya.
Meski demikian, Dinas Kesehatan menegaskan bahwa dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan akhir. Penentuan penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang tersedia, termasuk pemeriksaan penunjang lainnya.
"Masih dugaan. Tapi sementara memang mengerucut ke ayam. Hanya untuk membuktikan kan harus dicek sampel, dicek laboratorium," tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan dan untuk menghindari potensi kejadian serupa, operasional SPPG Nanggulan dihentikan sementara sejak laporan diterima pada 4 Agustus 2026. Penghentian layanan akan tetap berlangsung hingga proses investigasi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan.
"Sementara suspend. Nanti kewenangan dari BGN karena ada kejadian menonjol seperti itu. Sehingga memang nanti kalau sampai hasil misalnya dari labolarat pemeriksaan feses dan sebagainya, nanti sampai hasil keluar itu masih di-suspend dan kewenangannya memang ada di BGN," katanya.
Keputusan penghentian sementara tersebut berada di bawah kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN), yang akan menentukan langkah lanjutan setelah seluruh hasil pemeriksaan medis dan laboratorium diterima. Hingga kini, proses penyelidikan masih terus berjalan untuk memastikan sumber pasti yang menyebabkan ratusan siswa dan tenaga kependidikan mengalami gejala keracunan.
Sumber : DetikJogja

