Jogjaterkini.id — Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong agar pelayanan bagi penyandang disabilitas tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan kesehatan dan alat bantu. Kesempatan untuk bekerja, berkarya, serta mengembangkan potensi ekonomi dinilai menjadi bagian penting dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menghadiri kegiatan Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Terpadu di SLB Negeri Pembina Kota Yogyakarta, Kamis (27/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Hasto melihat masih banyak peserta yang memiliki kemampuan untuk menjalankan aktivitas produktif. Dari 78 peserta, ia memperkirakan sekitar separuhnya masih berada dalam usia atau kondisi produktif.
“Dari sebanyak 78, itu mungkin hampir separuh lebih masih produktif, mungkin sekitar 50-an masih produktif,” ujar Hasto.
Menurut Hasto, kondisi itu menjadi alasan agar dukungan pemerintah terhadap penyandang disabilitas tidak hanya diarahkan pada kebutuhan dasar. Pembiayaan BPJS, obat-obatan, maupun bantuan sosial tetap diperlukan, tetapi harus dibarengi dengan upaya meningkatkan kemandirian.
“Pemerintah itu harus tidak hanya merawat kebutuhan vegetatif, dalam arti kebutuhan dia bisa melayani kehidupan sendiri, tetapi bagaimana membuat mereka produktif,” katanya.
Pelatihan dan Pemasaran Jadi Perhatian
Hasto menilai pelatihan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan untuk membuka peluang produktivitas penyandang disabilitas. Keterbatasan fisik, menurutnya, tidak otomatis menghilangkan kemampuan seseorang untuk bekerja maupun menghasilkan karya.
Ia melihat sejumlah peserta tetap memiliki kekuatan mental dan kemampuan untuk menjalankan kegiatan ekonomi meskipun memiliki keterbatasan fisik. Bahkan, ada peserta yang telah menjalankan usaha meski mengalami keterbatasan pada kaki sejak kecil.
Potensi tersebut dinilai perlu diperkuat melalui akses pemasaran. Hasto pun menyatakan Pemerintah Kota Yogyakarta terbuka membantu memperluas pemasaran produk karya penyandang disabilitas, termasuk kemungkinan memanfaatkannya untuk kebutuhan Pemerintah Kota Yogyakarta.
“Bapak, Ibu semuanya pasti bisa bekerja. Bahkan bisa jadi karyanya jauh lebih baik daripada orang yang sehat jari-jarinya normal,” katanya.
Alat Bantu Tetap Mendapat Tindak Lanjut
Selain aspek pemberdayaan, keberlanjutan pelayanan kesehatan bagi penyandang disabilitas juga menjadi perhatian dalam Jamkesus Terpadu. Hasto menjelaskan pemeriksaan dan asesmen yang dilakukan dalam kegiatan tersebut tidak berhenti setelah peserta menerima layanan.
Peserta yang membutuhkan alat bantu akan mendapatkan tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing.
“Ini yang hari ini diperiksa itu ada follow up-nya. Ada yang dapat protesanya, alat bantunya,” jelasnya.
Hasto berharap tindak lanjut tersebut dapat segera direalisasikan agar alat bantu yang dibutuhkan peserta bisa segera digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Ia menegaskan pemenuhan hak warga harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk bagi penyandang disabilitas.
“Sedaya dipun gatosaken, boten wonten ingkang dipun rewa-aken. Kalau bahasa kerennya: no one left behind,” ujar Hasto.
Jamkesus Terpadu Digelar di Lima Kabupaten/Kota
Kepala Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Sosial (Bapel Jamkesos) DIY Sugiharto mengatakan kegiatan Jamkesus Terpadu merupakan hasil kolaborasi Bapel Jamkesos DIY dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta serta berbagai pihak pendukung lainnya.
“Ini adalah bukti bahwa pemerintah hadir melayani kepada semua warga yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kota Yogyakarta,” kata Sugiharto.
Menurut Sugiharto, pelayanan Jamkesus Terpadu tidak hanya berlangsung di Kota Yogyakarta. Program tersebut juga menjadi bagian dari pelayanan yang dilaksanakan di lima kabupaten/kota di DIY.
Pelaksanaan kegiatan di Kota Yogyakarta sekaligus menjadi bahan masukan dan evaluasi untuk pelaksanaan pelayanan serupa di wilayah lainnya.
Penyandang Disabilitas Tetap Beraktivitas
Dorongan untuk tetap produktif juga tercermin dari pengalaman Subakir, warga Kraton berusia 62 tahun. Memiliki keterbatasan pada kaki kiri sejak kecil tidak membuatnya berhenti menjalankan berbagai aktivitas.
Subakir menjalankan usaha kelontong dengan berjualan kebutuhan rumah tangga dari rumah. Selain itu, ia juga berjualan burung dan aktif dalam sejumlah kegiatan komunitas penyandang disabilitas.
Menurutnya, kegiatan Jamkesus Terpadu memberikan manfaat lebih dari sekadar pelayanan. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkomunikasi dan saling menguatkan.
“Walaupun kita difabel, kita enggak minder seperti orang-orang yang normal. Prinsipnya kita ikhlas dengan jualan apa dan membiayai anak,” ujarnya.
Subakir juga mengajak penyandang disabilitas lainnya untuk tidak menutup diri dan tetap berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Pokoknya yang penting kita jangan minder. Haknya sama, yang orang normal sama yang ini tuh sama,” katanya.
Sementara itu, bagi Nathaniel Renato Allesando, siswa kelas V SLB Negeri 1 Yogyakarta, Jamkesus Terpadu membawa kabar yang menggembirakan. Ia mengaku senang setelah mengetahui akan mendapatkan kursi roda baru.
Alat bantu tersebut diharapkan dapat mendukung mobilitas Nathaniel, baik ketika beraktivitas di sekolah maupun dalam kegiatan sehari-hari.
“Seneng banget, buat jalan-jalan,” ungkapnya.
Sumber : Pemkab Yogyakarta

