TSMlBUA7TprpTUG5BSGlTfA7GA==

3 Cara Mengetahui Busi Motor Harus Diganti, Jangan Tunggu Mesin Bermasalah

 

3 Cara Mengetahui Busi Motor Harus Diganti, Jangan Tunggu Mesin Bermasalah

Jogjaterkini.id - Busi merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga performa sepeda motor. Kondisinya perlu diperhatikan karena busi yang sudah aus dapat memengaruhi kinerja mesin, mulai dari kendaraan yang sulit dinyalakan hingga tarikan yang terasa kurang bertenaga.

Selain berdampak pada performa, kondisi busi yang tidak lagi optimal juga dapat berkaitan dengan meningkatnya konsumsi bahan bakar. Oleh sebab itu, pemilik sepeda motor perlu mengetahui kapan komponen ini harus diganti agar perawatan kendaraan tidak terlambat dilakukan.

Menentukan waktu penggantian busi sebenarnya dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pengendara bisa memantau jarak tempuh, mengenali perubahan saat motor digunakan, serta memeriksa kondisi fisik busi secara langsung.

1. Perhatikan Jarak Tempuh Sepeda Motor

Jarak tempuh menjadi salah satu acuan utama untuk menentukan waktu penggantian busi. Metode ini umum digunakan dalam perawatan berkala karena intervalnya dapat diketahui melalui odometer dan buku manual kendaraan.

Diko Oktaviano, Aftermarket Technical Support PT Niterra Mobility Indonesia (NMI), perusahaan produsen busi NGK di Indonesia, menjelaskan bahwa penggantian busi motor idealnya dilakukan setiap 6.000 km hingga 10.000 km.

Rentang tersebut dapat dijadikan panduan awal bagi pemilik kendaraan untuk menjadwalkan penggantian busi sebelum muncul gangguan pada mesin.

Agar lebih mudah mengingat jadwalnya, penggantian busi juga dapat disesuaikan dengan perawatan oli mesin. Busi idealnya diganti setelah motor menjalani dua kali penggantian oli.

Meski demikian, pemilik kendaraan tetap perlu memperhatikan rekomendasi dalam buku manual karena kebutuhan perawatan dapat berbeda sesuai spesifikasi motor.

2. Kenali Perubahan Performa Saat Berkendara

Selain menghitung jarak tempuh, pengendara dapat mengenali kebutuhan penggantian busi melalui perubahan performa kendaraan.

Ketika busi mulai mengalami penurunan kondisi, motor dapat menunjukkan sejumlah gejala yang terasa saat digunakan. Perubahan ini sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika sebelumnya mesin bekerja secara normal.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Mesin sulit dihidupkan saat hendak digunakan.

  • Tarikan motor terasa lebih berat dari biasanya.

  • Tenaga mesin berkurang sehingga performa kendaraan menurun.

  • Konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.

Gejala tersebut dapat menjadi alasan untuk segera memeriksa kondisi busi. Jika ditemukan indikasi keausan, penggantian sebaiknya tidak ditunda.

Namun, gejala serupa juga dapat berkaitan dengan komponen lain. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab gangguan dan menentukan penanganan yang tepat.

3. Periksa Bentuk Elektroda dan Penumpukan Karbon

Cara berikutnya adalah memeriksa kondisi fisik busi. Pemeriksaan dilakukan dengan melepas busi dari bagian kepala silinder atau cylinder head untuk melihat kondisi elektrodanya.

Bentuk elektroda menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan. Apabila bentuknya sudah berubah dari kondisi awal, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa busi mengalami keausan.

Elektroda yang semula berbentuk kotak dan berubah menjadi oval perlu mendapat perhatian. Selain itu, penumpukan jelaga karbon pada bagian busi juga menjadi indikasi yang perlu diperiksa.

Jika kedua kondisi tersebut ditemukan, penggantian busi sebaiknya segera dilakukan agar komponen yang sudah aus tidak terus digunakan.

Bagi pengendara yang belum terbiasa membongkar komponen mesin, pemeriksaan dapat dilakukan di bengkel. Langkah ini membantu memastikan kondisi busi diketahui tanpa menimbulkan masalah saat proses pelepasan atau pemasangan kembali.

Mengapa Kondisi Busi Berpengaruh pada Performa Motor?

Busi memiliki peran penting dalam mendukung proses pembakaran di dalam mesin. Ketika kondisinya tidak lagi optimal, kinerja kendaraan dapat ikut terpengaruh.

Salah satu dampak yang mudah dirasakan adalah mesin menjadi lebih sulit dinyalakan. Pengendara juga dapat merasakan perubahan respons ketika menarik gas karena tenaga mesin tidak lagi optimal.

Selain itu, konsumsi bahan bakar yang menjadi lebih boros dapat menambah biaya penggunaan kendaraan sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat pemeriksaan busi perlu dimasukkan ke dalam jadwal perawatan rutin. Pengendara tidak perlu menunggu hingga motor mengalami gangguan yang menghambat aktivitas untuk memeriksa komponen ini.

Memadukan pemeriksaan berdasarkan jarak tempuh, gejala saat berkendara, dan kondisi fisik busi dapat membantu pemilik kendaraan menentukan waktu penggantian secara lebih tepat.

Kesimpulan

Waktu penggantian busi motor dapat diketahui melalui tiga cara, yakni memantau jarak tempuh, memperhatikan perubahan performa kendaraan, dan memeriksa kondisi fisik elektroda.

Secara umum, busi idealnya diganti setiap 6.000 km hingga 10.000 km. Pengendara juga dapat menjadikan dua kali penggantian oli mesin sebagai pengingat jadwal perawatan.

Di luar interval tersebut, mesin yang sulit dihidupkan, tarikan terasa berat, tenaga berkurang, serta elektroda yang berubah bentuk dan dipenuhi jelaga karbon menjadi tanda bahwa busi perlu diperiksa.

Dengan memperhatikan kondisi busi secara berkala, pemilik sepeda motor dapat mengetahui kebutuhan penggantian lebih awal dan membantu menjaga performa kendaraan tetap optimal.

Ketik kata kunci lalu Enter

close