![]() |
| Sumber Gambar : Kompas Otomotif |
Jogjaterkini.id - Industri kedirgantaraan Indonesia kembali mencatat perkembangan baru melalui pengenalan Vela Alpha, pesawat konsep Advanced Air Mobility atau AAM yang dikembangkan oleh PT Vela Prima Nusantara melalui Vela Aero.
Prototipe fisik skala penuh Vela Alpha diperkenalkan kepada publik dalam ajang Heli Expo Asia (HEXIA) 2026 yang digelar di Cengkareng Heliport, Jakarta. Kehadiran prototipe tersebut menandai tahapan baru pengembangan pesawat, setelah sebelumnya berfokus pada desain dan rekayasa.
Selanjutnya, Vela Alpha akan memasuki rangkaian pengujian, termasuk rencana uji terbang perdana yang ditargetkan berlangsung pada kuartal IV 2026.
Pesawat ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan mobilitas udara di Indonesia, mulai dari transportasi perkotaan hingga konektivitas antardaerah dan antarpulau. Selain layanan penumpang, desainnya juga disiapkan untuk mendukung kebutuhan logistik dan evakuasi medis.
Dari Prototipe Menuju Uji Terbang Perdana
Peluncuran prototipe fisik Vela Alpha di HEXIA 2026 menjadi salah satu langkah penting dalam peta jalan pengembangan pesawat tersebut.
Vela Aero menargetkan uji terbang perdana dapat dilakukan pada kuartal IV 2026. Demonstrasi tersebut direncanakan berlangsung di hadapan publik, regulator, mitra, serta calon investor.
Selain menyiapkan uji terbang, perusahaan juga membidik persetujuan Design Organization Approval atau DOA Class D dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kementerian Perhubungan.
Persetujuan tersebut ditargetkan dapat diperoleh pada akhir 2026 sebagai bagian dari tahapan pengembangan dan persiapan sertifikasi Vela Alpha.
Tahapan tersebut menjadi pintu awal sebelum pesawat memasuki proses sertifikasi yang lebih panjang. Vela Aero merencanakan periode 2027 hingga 2028 sebagai fase untuk menyelesaikan berbagai proses sertifikasi sekaligus membangun ekosistem pendukung operasional pesawat.
Vela Alpha Menggunakan Sembilan Motor Listrik
Salah satu teknologi utama yang digunakan Vela Alpha adalah konfigurasi lift-and-cruise dengan sistem Distributed Electric Propulsion atau DEP.
Konfigurasi tersebut memanfaatkan sembilan motor listrik independen. Sistem ini memungkinkan pesawat melakukan lepas landas dan pendaratan secara vertikal, kemudian beralih ke mode penerbangan jelajah menggunakan sayap.
Dengan kemampuan tersebut, Vela Alpha dikembangkan sebagai pesawat Vertical Take-Off and Landing atau VTOL yang tidak bergantung pada landasan pacu konvensional seperti pesawat pada umumnya.
Vela Aero juga merancang pesawat ini dengan tingkat redundansi sistem yang tinggi. Dengan konsep tersebut, Vela Alpha ditargetkan tetap mampu mempertahankan keselamatan penerbangan apabila terjadi gangguan pada salah satu motor listrik.
Sistem kendali pesawat menggunakan fly-by-wire terintegrasi dengan konsep zero single point of failure.
Untuk tingkat kebisingan, Vela Alpha diklaim menghasilkan suara sekitar 65 dBA saat berada dalam kondisi hover pada jarak 100 meter.
Tersedia dalam Varian eVTOL dan hVTOL
Dalam pengembangannya, Vela Alpha direncanakan hadir dalam dua pilihan sistem penggerak.
Pilihan pertama adalah varian electric Vertical Take-Off and Landing atau eVTOL yang menggunakan tenaga listrik. Varian ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan Urban Air Mobility atau UAM.
Vela Alpha versi eVTOL dirancang memiliki jangkauan penerbangan hingga 150 kilometer.
Sementara itu, pilihan kedua adalah hybrid-electric VTOL atau hVTOL. Varian ini dipersiapkan untuk kebutuhan penerbangan regional dengan jangkauan yang lebih jauh, yakni hingga 500 kilometer.
Versi hVTOL menggunakan turbogenerator dan juga dipersiapkan agar dapat menggunakan Sustainable Aviation Fuel atau SAF.
Kehadiran dua pilihan sistem penggerak tersebut menunjukkan bahwa Vela Alpha tidak hanya disiapkan untuk perjalanan di kawasan perkotaan, tetapi juga untuk kebutuhan mobilitas dengan jarak yang lebih panjang.
Mampu Membawa Enam Penumpang
Dari sisi kapasitas, Vela Alpha dirancang dapat mengangkut satu pilot dan hingga enam penumpang.
Pesawat ini memiliki kapasitas muatan hingga 550 kilogram, termasuk pilot. Sementara itu, kecepatan jelajahnya diklaim dapat mencapai 250 kilometer per jam.
Selain mengangkut penumpang, desain kabin Vela Alpha dibuat dengan konsep modular. Artinya, konfigurasi kabin dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional.
Melalui sistem quick-change, pesawat dapat dikonfigurasi untuk berbagai fungsi, termasuk angkutan kargo, layanan logistik, hingga evakuasi medis atau ambulans udara.
Fleksibilitas tersebut membuat Vela Alpha disiapkan untuk melayani berbagai segmen, tidak terbatas pada transportasi penumpang.
Namun, Vela Aero menyebut sejumlah spesifikasi tersebut masih berpotensi mengalami penyesuaian. Perubahan dapat dipengaruhi oleh hasil uji terbang, perkembangan teknologi baterai, kebutuhan kapasitas muatan, serta parameter sertifikasi akhir.
Kantongi 160 Surat Minat
Di tengah proses pengembangan pesawat, Vela Aero mengklaim telah mengamankan akumulasi 160 Letter of Intent atau LOI dari pasar domestik maupun internasional.
LOI tersebut merupakan surat minat untuk pengadaan Vela Alpha dan belum seluruhnya berbentuk kontrak pembelian pasti.
Jumlah tersebut juga belum memasukkan sejumlah kerja sama dalam bentuk Memorandum of Understanding atau MoU yang berkaitan dengan pembangunan ekosistem Advanced Air Mobility.
Salah satu kerja sama yang diumumkan dalam ajang HEXIA 2026 adalah MoU dengan operator aviasi Whitesky Aviation.
Kerja sama tersebut mencakup rencana pengadaan 50 unit Vela Alpha untuk mendukung sejumlah layanan.
Pemanfaatannya direncanakan mencakup airport feeder, taksi udara perkotaan, layanan pariwisata premium, hingga logistik untuk kawasan industri.
Ke depan, Vela Aero menargetkan LOI yang telah diperoleh dapat dikonversi menjadi kontrak pemesanan pasti atau firm purchase orders.
Target Sertifikasi Akhir 2028 dan Operasional 2029
Setelah menargetkan sejumlah pencapaian pada akhir 2026, Vela Aero akan melanjutkan pengembangan Vela Alpha melalui proses sertifikasi pada 2027 dan 2028.
Dalam periode tersebut, perusahaan juga menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung untuk operasional pesawat AAM.
Ekosistem yang direncanakan mencakup pembangunan dan integrasi vertiport, fasilitas maintenance, repair, and overhaul atau MRO, hingga kerja sama dengan perusahaan leasing.
Vela Aero menargetkan Vela Alpha dapat memperoleh Type Certification atau TC pada akhir 2028.
Apabila seluruh tahapan pengembangan dan sertifikasi berjalan sesuai rencana, Vela Alpha diproyeksikan mulai memasuki tahap operasional atau Entry Into Service pada awal 2029.
Peta jalan tersebut menempatkan tahun 2026 sebagai periode penting bagi pengembangan Vela Alpha. Setelah prototipe fisik diperkenalkan, tahap berikutnya adalah membuktikan kemampuan pesawat melalui pengujian terbang sebelum memasuki proses sertifikasi dan persiapan operasional.
Dengan konsep yang menggabungkan kemampuan lepas landas vertikal, sembilan motor listrik, pilihan tenaga listrik maupun hybrid, serta kabin modular, Vela Alpha disiapkan untuk menjawab berbagai kebutuhan mobilitas udara.
Jika target pengembangan dapat tercapai, pesawat yang dikembangkan oleh Vela Aero ini berpeluang menjadi salah satu bagian dari perkembangan ekosistem Advanced Air Mobility dan industri manufaktur kedirgantaraan Indonesia.

